Angka 5,48%. Itu proyeksi LPEM FEB Universitas Indonesia untuk pertumbuhan PDB Indonesia di kuartal pertama tahun ini. Bukan angka yang mengejutkan, tapi cukup untuk memberi napas lega saat kondisi eksternal masih compang-camping.
Peneliti LPEM UI Jahen F. Rezki menyebut proyeksi tersebut datang dengan rentang estimasi yang relatif sempit, yakni 5,46% hingga 5,50% yoy. Faktor musiman Ramadhan dan Idul Fitri jadi motor utama, bersama pencairan tunjangan hari raya yang secara historis mengangkat konsumsi rumah tangga. Ditambah efek basis rendah dari kuartal I-2025, kombinasi ini membuat angka pertumbuhan yang tinggi agaknya sudah terbaca sejak awal.
Tapi survei Bloomberg terhadap 32 ekonom dan analis punya angka berbeda. Konsensus mereka berhenti di 5,3% yoy, lebih konservatif. Sedikit melambat dari capaian kuartal IV-2025 sebesar 5,39%, yang waktu itu sempat jadi rekor tertinggi sejak kuartal III-2022.
Melambat. Walau tipis.
Para ekonom dalam survei yang digelar 22-27 April itu juga memangkas ekspektasi pertumbuhan sepanjang 2026 ke level 5% saja, turun dari realisasi 2025 yang mencapai 5,11%. Perlambatan yang terukur, bukan alarm kebakaran, tapi tetap sinyal yang patut dicermati.
Rupiah jadi salah satu biang keroknya. Sejak awal tahun hingga awal Mei ini, mata uang kita sudah tergerus 3,88%. Cadangan devisa terkuras US$8,4 miliar hanya dalam tiga bulan pertama 2026. Dengan konflik Timur Tengah yang belum juga padam dan volatilitas yang masih menggigit, kebijakan moneter Bank Indonesia dipandang tidak punya ruang untuk longgar.
BI Rate diproyeksikan parkir di 4,75% hingga akhir tahun. Tidak ada pemangkasan.
Gambar besarnya paradoks. Ekonomi tumbuh cukup kencang di awal tahun, tapi mesinnya berjalan dengan ban kempes. Konsumsi domestik bergerak, didorong momen Lebaran, sementara sisi eksternal, kurs, cadangan devisa, dan geopolitik, masih menjadi variabel yang sulit dijinakkan. Pertanyaannya, berapa lama dorongan Lebaran bisa nutup lubang-lubang itu?
Buat pasar, data realisasi pertumbuhan Q1-2026 dari BPS yang dirilis pekan ini akan jadi penentu arah jangka pendek. Kalau angkanya mendekati proyeksi LPEM UI di kisaran 5,48%, bisa jadi katalis positif yang sudah lama dinantikan. Kalau hanya 5,3% atau di bawah itu, ekspektasi pasar kemungkinan direvisi ke bawah lebih jauh, dan rupiah bisa makin berat.