Dua puluh persen. Segitu lonjakan penjualan earphone berkabel dalam enam minggu pertama 2026, dan bukan karena diskon akhir tahun atau kampanye pemasaran besar-besaran dari merek manapun. Firma analitik Circana yang mencatat angka ini agaknya pun ikut terkejut, mengingat kategori ini sudah lima tahun berturut-turut mencatat penurunan.
Coba perhatikan KRL atau kafe kawasan Sudirman-Thamrin belakangan ini. Ada pemandangan yang terasa asing sekaligus familiar: kabel putih menjuntai dari saku celana ke telinga. Bukan AirPods. Bukan Galaxy Buds. Earphone kabel biasa, yang bertahun-tahun lalu dianggap pensiun paksa setelah produsen ramai-ramai mengeksekusi jack 3,5 mm dari ponsel mereka.
Ternyata laporannya terlalu dini.
Pendorong utama kebangkitan ini bukan segmen yang kita duga. Gen Z, generasi yang justru tumbuh besar saat TWS mulai merajai pasar, adalah yang paling agresif mengangkat tren ini kembali. Motivasinya pun lebih berlapis dari sekadar nostalgia.
Salah satu keluhan terbesar terhadap perangkat nirkabel selama bertahun-tahun adalah apa yang kini mulai disebut "battery anxiety". Kecemasan ketika notifikasi "battery low" muncul di tengah podcast, rapat virtual, atau playlist workout. Earphone kabel memecahkan masalah ini dengan cara paling primitif yang bisa dibayangkan: colok, dan bunyi. Tidak ada kotak pengisi daya yang harus digotong ke mana-mana, tidak ada ritual malam sebelum tidur untuk memastikan semua perangkat terisi penuh.
Rata-rata orang kini mengelola baterai untuk ponsel, smartwatch, laptop, earphone, kadang juga e-scooter. Kesederhanaan itu, kalau data ini bisa dipercaya, terasa hampir membebaskan.
Faktor ekonomi ikut bicara. Earphone berkabel berkualitas bisa didapat dengan harga sepertiga dari TWS kelas menengah, dengan kualitas audio yang secara teknis tidak lebih buruk, bahkan di beberapa kasus lebih baik. Koneksi kabel tidak mengalami kompresi data Bluetooth, yang berarti sinyal audio yang sampai ke telinga lebih bersih dan minim latensi. Bagi pengguna layanan streaming dengan kualitas lossless seperti Apple Music atau Tidal, ini bukan detail kecil.
Risiko kehilangan juga beda cerita. Kehilangan satu sisi TWS itu menyakitkan, secara harfiah dan finansial. Earphone kabel? Gampang cari gantinya.
Tapi ada dimensi yang lebih menarik dari sekadar hitungan biaya dan spesifikasi teknis.
Di TikTok dan Instagram, muncul komunitas yang secara khusus mendokumentasikan estetika "Wired It Girls" dan "Wired It Boys". Ketika Jacob Elordi, Bella Hadid, hingga idol K-Pop tertangkap kamera pakai earphone kabel di bandara atau jalanan, tren itu menyebar bagai api. Juntaian kabel yang dulu jadi simbol tertinggal zaman kini dibaca sebagai fashion statement, bagian dari estetika Y2K, mode awal 2000-an yang dipadukan dengan nuansa grunge dan kasual urban.
Ada juga aspek psikologis yang tidak bisa diabaikan. TWS yang nyaris tak terlihat di telinga membuat orang lain susah membaca apakah kamu siap diajak ngobrol atau sedang fokus. Kabel yang menjuntai memberikan sinyal visual yang tegas: jangan ganggu. Pertanyaannya, berapa lama sinyal itu cukup untuk menangkis dunia? Bagi Gen Z yang dinilai rentan terhadap digital burnout, earphone kabel adalah bentuk micro-protest paling simpel terhadap teknologi yang menuntut konektivitas konstan.
Sebuah protes sunyi, tapi ternyata efektif secara komersial.
Bukan berarti TWS akan amblas. Samsung Galaxy Buds2 Pro, Sony WF-1000XM5, Bose QuietComfort Earbuds, semuanya masih mendominasi volume pasar. Teknologi nirkabel terus berkembang dan tidak akan surut hanya karena satu tren musiman, setidaknya itu yang tersirat dari angka-angka yang ada.
Kembalinya earphone kabel membuktikan sesuatu yang mungkin sering terlupakan di industri teknologi: konsumen tidak selalu ingin yang paling canggih. Kadang mereka hanya ingin sesuatu yang pasti berfungsi saat dibutuhkan. Kepastian itu, entah kebetulan atau tidak, kini punya nilai jual tersendiri.