JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Dua Emiten Aguan Kompak Cetak Laba Jumbo di Q1 202...

Bisnis

Dua Emiten Aguan Kompak Cetak Laba Jumbo di Q1 2026

PANI membukukan lonjakan laba 1.066% menjadi Rp578 miliar, sementara CBDK mencetak kenaikan 317% ke Rp542 miliar. Keduanya ditopang monetisasi kawasan PIK2 yang agresif sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.

Dua emiten properti di bawah bendera konglomerat Sugianto Kusuma alias Aguan kompak membukukan hasil yang, jujur saja, jauh melampaui ekspektasi pasar di kuartal pertama 2026.

PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) mencetak laba bersih Rp578,34 miliar sepanjang Januari-Maret 2026, melonjak 1.066,5% secara tahunan dari Rp49,58 miliar di periode yang sama tahun lalu. PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) tak mau kalah: laba bersih Rp542 miliar, naik 317% YoY.

Masif. Dari keduanya.

Mesin pertumbuhan PANI terletak pada pendapatan neto yang melesat 81,53% YoY menjadi Rp1,11 triliun, hampir dua kali lipat dari Rp611,97 miliar setahun sebelumnya. Penjualan tanah dan bangunan menjadi kontributor utama dengan nilai Rp1,08 triliun, jauh mendominasi segmen sewa dan pendapatan lainnya yang masing-masing hanya Rp3,26 miliar dan Rp21,92 miliar. Laba bruto pun ikut terkerek ke Rp798,38 miliar dari sebelumnya Rp343,98 miliar.

CBDK bergerak di jalur serupa. Pendapatan perseroan tercatat Rp743 miliar, tumbuh 74% YoY. Kontribusi terbesar datang dari penjualan kaveling tanah komersial yang meledak 492% secara tahunan, angka yang, kalau dipikir-pikir, bak gayung bersambut dengan momentum monetisasi kawasan CBD PIK2. Produk komersial seperti SOHO, rukan, dan bizpark turut memberikan kontribusi yang stabil di sisi lain.

Dari sisi neraca, total aset CBDK per Maret 2026 tercatat Rp22,4 triliun dengan land bank 694 hektare di kawasan PIK2. PANI membukukan total aset Rp50,41 triliun dan ekuitas Rp32,21 triliun.

Ada satu catatan yang patut dicermati: arus kas operasional PANI tercatat negatif Rp308,82 miliar di akhir kuartal. Bukan sinyal alarm langsung. Siklus properti memang kerap menunjukkan pola demikian saat fase penjualan sedang agresif, tapi tetap angka yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Bila disandingkan dengan sesama emiten properti konglomerat seperti PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) milik Grup Lippo dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) besutan Sinar Mas, kinerja prapenjualan kedua emiten Aguan ini tampak solid, setidaknya itu yang terbaca dari data Q1.

Pertanyaannya sekarang: seberapa dalam land bank PIK2 bisa terus dimonetisasi dengan kecepatan seperti ini? Kaveling komersial naik 492% setahun adalah angka yang mengesankan, tapi secara alamiah ada batasnya. Investor yang sudah duduk manis di PANI maupun CBDK agaknya perlu mulai mencermati pipeline proyek berikutnya, termasuk pengembangan aset recurring income seperti kawasan NICE dan hotel yang disebut manajemen CBDK sebagai katalis jangka panjang.

Kuartal pertama ini, PIK2 sudah membuktikan dirinya bukan sekadar proyek ambisius di atas kertas.