Dua bulan berturut-turut, emas perhiasan kompak menekan harga ke bawah. Komoditas yang selama 30 bulan penuh mengerek inflasi itu kini berbalik arah, dan dampaknya terasa sampai ke angka inflasi nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi emas perhiasan 3,76 persen secara bulanan pada April 2026, lebih dalam dari Maret yang tercatat 1,17 persen. Bukan angka kecil, terutama kalau diingat bahwa sebelumnya emas perhiasan terus-menerus inflasi sejak September 2023 hingga Februari 2026.
Dua setengah tahun tanpa jeda.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut penurunan ini selaras dengan koreksi harga di pasar internasional. Data World Bank Commodity Price menunjukkan harga emas dunia meluncur dari 5.019,97 dolar AS per troy ounce pada Februari 2026, turun ke 4.881,13 dolar AS di Maret, lalu amblas lagi ke 4.719,28 dolar AS di April. "Emas perhiasan pada Maret dan April mengalami penurunan pada harga internasionalnya," tutur Ateng.
Koreksi emas itu cukup keras untuk menjadi penyumbang deflasi terbesar dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan andil deflasi 0,09 persen. Kelompok ini membukukan deflasi 0,99 persen mtm, deflasi terdalam sejak Januari 2020. Bersama kelompok makanan, minuman, dan tembakau, keduanya jadi penahan laju inflasi April.
Inflasi bulanan April 2026 terkendali? Tidak tepat juga disebut begitu. Lebih pas: jinak. Angka 0,13 persen mtm, dengan inflasi tahunan 2,42 persen year-on-year. Indeks harga konsumen bergerak dari 108,47 pada April 2025 menjadi 111,09 bulan lalu.
Cukup untuk bikin pemerintah lega.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menunjuk kebijakan subsidi energi sebagai faktor peredam. Pemerintah memilih tidak menaikkan harga BBM bersubsidi meski harga minyak global bergejolak. "Biasanya inflasi tinggi, karena harga minyak yang berlebihan naiknya. Ini kan yang bersubsidi, enggak kita naikkin," ujar Purbaya kepada awak media di Kantor Kementerian Keuangan, Senin (4/5).
Purbaya juga terang-terangan soal konsekuensinya bila subsidi dilepas: inflasi bakal melonjak, daya beli tergerus, dan efek dominonya ke pertumbuhan ekonomi bisa lebih besar dari penghematan fiskal yang didapat. "Hitungannya kita adalah mana yang paling bagus, kita subsidi atau kita ambil subsidinya. Uangnya banyak, saya belanjain, tapi ekonominya runtuh, karena susah dikendalikan," jelasnya.
Klaim yang masuk akal di atas kertas, tapi tekanan fiskal dari sisi subsidi energi bukan beban kecil bagi APBN. Entah kebetulan atau tidak, pernyataan ini muncul tepat saat ruang fiskal makin sempit.
Bagi investor yang pegang posisi di emiten berbasis emas atau perhiasan, dua bulan deflasi ini layak dicermati lebih serius. Koreksi harga dunia sudah lebih dari 300 dolar AS per troy ounce sejak puncak Februari, dan itu bisa menggigit margin emiten. Volume permintaan fisik domestik belum tentu ikut surut, tapi ibarat pedang bermata dua: harga input turun memang membantu biaya produksi, sementara valuasi aset yang sudah kadung tinggi jadi pertanyaan lain. Apakah ini koreksi teknikal sementara, atau sinyal awal tren reversal setelah rally panjang dua tahun lebih?