Gedung pencakar langit di jantung Moskow kini punya lubang menganga di dindingnya.
Serangan drone Ukraina menghantam bangunan itu Senin malam (4/5/2026), menjadikannya salah satu serangan paling berani ke ibu kota Rusia sejak perang pecah. Lokasinya bukan sembarangan: kurang dari 10 kilometer dari Kremlin, pusat kekuasaan Vladimir Putin.
Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin membenarkan insiden itu dan memastikan tidak ada korban jiwa. Dua drone lain yang terbang ke arah kota berhasil dijatuhkan sistem pertahanan udara Rusia sebelum mencapai sasaran. Tapi satu lolos. Bekasnya terlihat jelas.
Vnukovo International Airport dan Domodedovo International Airport, dua dari tiga bandara utama Moskow, terpaksa menghentikan operasional pada malam itu. Bukan angka kecil. Kedua bandara itu melayani puluhan juta penumpang per tahun.
Timingnya, entah kebetulan atau tidak, terasa seperti pesan yang disengaja. Serangan ini terjadi hanya beberapa hari sebelum parade militer tahunan Victory Day, peringatan kekalahan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II yang setiap tahun dirayakan Rusia dengan gegap gempita di Lapangan Merah. Parade itu bukan sekadar seremonial, ia adalah simbol kekuatan militer Rusia yang ditonton dunia. Pertanyaannya, pesan apa yang lebih keras dari lubang di tembok kota sendiri, tepat sebelum pesta kemenangan?
Ini bukan kali pertama Kremlin merasakan napas drone di dekatnya. Pada 3 Mei 2023, dua UAV meledak tepat di atas kubah Istana Senat di dalam kompleks Kremlin, memicu kebakaran kecil meski tidak menimbulkan kerusakan besar maupun korban jiwa. Rusia saat itu menuding Ukraina berupaya membunuh Putin, tuduhan yang dibantah Kyiv.
Tiga tahun berselang, jarak aman itu agaknya kian menyempit. Gedung sipil bolong, dua bandara lumpuh malam-malam, semua itu terjadi di kota yang selama ini relatif terlindungi dari dampak langsung perang. Bak cermin retak dari narasi invincibility yang selama ini dijaga Kremlin.
Bagi Moskow, malam itu bukan malam biasa.