RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  DPK Valas Melesat Dua Digit, OJK: Porsi Masih Aman...

Bisnis

DPK Valas Melesat Dua Digit, OJK: Porsi Masih Aman di Kisaran 15-16 Persen

Tabungan dan deposito valas di perbankan nasional tumbuh lebih dari 20 persen secara tahunan hingga April 2026, seiring penguatan dolar AS. OJK menyebut porsi DPK valas masih stabil di kisaran 15-16 persen dari total simpanan.

Simpanan Dollar AS di Bank Naik, OJK: Risiko Tetap Terkendali

Penguatan dolar AS sepanjang 2026 rupanya mendorong sebagian nasabah perbankan Indonesia mengalihkan dana ke instrumen berdenominasi valuta asing. Data Otoritas Jasa Keuangan per April 2026 menunjukkan tabungan valas melonjak 23,21 persen secara tahunan, sementara deposito valas tidak jauh tertinggal dengan kenaikan 22 persen year on year. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

DPK valas tumbuh 10,87 persen yoy. Giro valas relatif tertahan, hanya naik 3,15 persen, sehingga kontribusi terbesar memang datang dari dua instrumen tadi. Pertumbuhan ini terjadi saat total DPK perbankan, yang mayoritas masih berdenominasi rupiah, mencatat ekspansi 11,39 persen yoy, dengan giro rupiah bahkan meledak 23,25 persen yoy.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengakui adanya pergeseran ini, tapi tidak ingin pasar membacanya sebagai sinyal bahaya. Porsi DPK valas terhadap total DPK, tegasnya, masih bergerak stabil di rentang 15 hingga 16 persen sejak awal tahun. "Peningkatan DPK valas masih tergolong wajar sehingga porsi DPK valas terhadap DPK total sampai saat ini relatif stabil," ujar Dian dalam pernyataan tertulis, Jumat (22/5/2026).

Menurut Dian, lonjakan deposito valas sebagian dipicu oleh suku bunga yang ditawarkan sejumlah bank besar, yang dinilai cukup kompetitif. Ada pula faktor insentif bagi eksportir agar menempatkan dana hasil devisa di dalam negeri, bukan parkir di luar. Agaknya kebijakan ini mulai terasa efeknya, meski seberapa besar kontribusinya masih perlu dicermati lebih jauh.

Dari sisi ketahanan, OJK memaparkan sejumlah rasio yang menjadi tameng perbankan. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat 111,13 persen, jauh melampaui ambang batas minimum 50 persen. Rasio AL/DPK juga berada di 25,39 persen, lebih dari dua kali lipat batas minimum 10 persen. Tidak ada lampu kuning di sini. Loan to Deposit Ratio April 2026 tercatat 86,88 persen, level yang mencerminkan fungsi intermediasi masih berjalan tanpa tekanan likuiditas yang berarti.

Indikator risiko nilai tukar pun tidak menunjukkan lampu merah. Rasio Posisi Devisa Neto (PDN) perbankan, yang mengukur eksposur langsung terhadap fluktuasi kurs, secara konsisten berada jauh di bawah threshold 20 persen dari modal. "Dampak immediate dari pelemahan rupiah terhadap stabilitas perbankan relatif masih terbatas," kata Dian.

Tapi OJK tidak tutup mata terhadap risiko lanjutan. Regulator mengaku terus mencermati potensi second round impact, yakni tekanan dari imported inflation maupun cost-push inflation seiring kenaikan harga minyak global. Kalau rupiah terus tergerus dan harga energi tidak turun, tekanan ke kualitas kredit korporasi bisa menjadi cerita berikutnya. Pertanyaannya: seberapa panjang tren ini bertahan sebelum mulai menggigit?

Satu data yang sedikit luput dari perhatian: jumlah rekening DPK per April 2026 mencapai 667 juta lebih, tumbuh 7,22 persen yoy. Basis nasabah yang terus melebar ini setidaknya memberi sinyal bahwa masyarakat belum menarik dana secara masif dari sistem perbankan meski gejolak eksternal terus bergulir.

OJK juga menyebut koordinasi dengan Bank Indonesia, LPS, dan Kementerian Keuangan melalui forum KSSK terus diperkuat. Entah kebetulan atau tidak, pernyataan koordinasi ini selalu muncul di saat pasar sedang gelisah, ibarat pengingat bahwa jaring pengaman sistem keuangan masih terpasang.