Kamis ini rekening investor di sejumlah sekuritas seharusnya bertambah gemuk. Sembilan emiten serentak mencairkan dividen tunai tahun buku 2025 pada 9 Juli 2026, dengan nilai gabungan yang mencapai triliunan rupiah. Sektor keuangan dan properti mendominasi.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menjadi yang paling dermawan. Perusahaan infrastruktur menara ini membagikan Rp47 per saham, totalnya Rp1,06 triliun, setara 73,94 persen dari laba bersih yang diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp1,42 triliun. Bukan angka kecil, bahkan untuk ukuran emiten kakap.
Di bawahnya ada PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) dengan Rp16,50 per saham atau Rp795 miliar. Yang bikin DMAS menarik: rasio pembayarannya 100 persen dari laba bersih tahun buku 2025, langsung diteruskan utuh ke pemegang saham. Agaknya manajemen menilai tidak ada kebutuhan ekspansi yang cukup mendesak untuk menyimpan kas.
PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) menyebar dividen final Rp50 per saham, senilai Rp225,49 miliar. Tapi ini bukan satu-satunya cicilan. TSPC sebelumnya sudah mencairkan dividen interim Rp100 per saham pada akhir November 2025, sehingga total yang diterima pemegang saham sepanjang siklus ini mencapai Rp150 per saham atau Rp676,48 miliar.
Di ujung lain spektrum ada PT Jasa Berdikari Logistics Tbk (LAJU). Rp0,14 per saham, total Rp319,91 juta. Paling minimalis di antara sembilan emiten hari ini.
Awal pekan ini sudah menjadi momen tersendiri bagi pemegang saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Senin (6/7) adalah cum dividen date untuk emiten konsumer milik Grup Salim ini, dengan dividen Rp265 per saham atau Rp26.500 per lot dan jadwal pembayaran 28 Juli 2026.
Dengan harga saham ICBP di kisaran Rp6.950 saat cum dividen, yield-nya mencapai 3,8%. Tipis di atas batas maksimal bunga deposito yang dijamin LPS sebesar 3,5%. Bagi investor yang membandingkan pilihan instrumen, selisih segitu bisa jadi argumen. Tapi ada catatan yang patut dicermati: harga ICBP sudah terkerek 4,5% dalam lima hari sebelum cum dividen. Potensi dividen trap, di mana harga amblas setelah tanggal tersebut, bukan skenario yang bisa dikesampingkan begitu saja.
Dari sisi fundamental, ICBP membukukan penjualan neto konsolidasi Rp21,72 triliun di kuartal I-2026, tumbuh sekitar 8 persen YoY dari Rp20,19 triliun. Laba bersih justru tergerus 3 persen YoY menjadi Rp2,57 triliun, turun dari Rp2,66 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Tekanan margin yang sudah beberapa kuartal jadi perbincangan di kalangan analis rupanya belum juga mereda.
Dalam keterangan resminya usai RUPST akhir Juni lalu, Direktur Utama sekaligus CEO ICBP Anthoni Salim menyatakan, "Kami tetap berkomitmen untuk menciptakan nilai tambah dan mempertahankan posisi ICBP sebagai pemimpin di industri makanan & minuman." Pernyataan yang terdengar standar, tapi dividen di atas bunga deposito setidaknya menjadi bukti yang bisa dipegang investor ritel.