Diskon US$ 106 per troy ounce. Angka itu bukan promosi, bukan. Itu sinyal frustrasi dari pedagang yang kehabisan cara menarik pembeli kembali ke meja transaksi.
India resmi menaikkan tarif impor emas dan perak dari 6% menjadi 15%. Kebijakan itu langsung menghantam pasar: permintaan ritel lesu, toko perhiasan sepi pengunjung, pedagang batangan berlomba kasih potongan harga besar supaya stok bergerak. Hasilnya? Belum ada yang menggembirakan.
Pekan ini, pedagang emas di India memangkas harga hingga US$ 106 per troy ounce di atas harga domestik resmi, sudah termasuk bea impor 15% dan bea penjualan 3%. Angka itu melonjak dari diskon US$ 78 per troy ounce sepekan sebelumnya. Semakin besar potongan yang ditawarkan, semakin terang gambaran betapa stagnannya kondisi sekarang.
"Toko emas perhiasan melaporkan jumlah pengunjung yang sangat rendah akhir-akhir ini. Konsumen ritel kesulitan memahami tren harga dan lebih memilih untuk tetap berada di luar pasar," kata seorang pedagang emas batangan berbasis di Chennai.
Harga domestik India sempat amblas ke 153.451 rupee per 10 gram, level terendah dalam dua minggu, sebelum memantul tipis. Pemulihan itu agaknya lebih soal dinamika teknikal ketimbang membaiknya nafsu beli konsumen. Seorang pedagang di bank pengimpor logam mulia di Mumbai menyebut para pedagang perhiasan tidak mau menumpuk stok dalam kondisi seperti ini. "Sentimen di pasar sangat lemah setelah pemerintah menaikkan bea impor. Para pedagang perhiasan sangat berhati-hati dan tidak mau menumpuk stok," ujarnya. Pasar sudah terlanjur rusak kepercayaannya.
Efek kebijakan ini terasa sampai Beijing. China, konsumen emas terbesar pertama di dunia, ikut merasakan imbasnya. Premi emas di pasar China kini hanya berkisar US$ 9 hingga US$ 12 di atas harga patokan global, menyusut dari US$ 10 hingga US$ 20 pada minggu sebelumnya. Tidak dramatis, tapi trennya cukup untuk bikin pelaku pasar was-was.
"Premi di China masih agak stabil, tetapi tidak banyak orang yang ingin membeli emas saat ini karena konflik di Timur Tengah masih belum pasti, jadi masyarakat masih ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya," kata Peter Fung, kepala perdagangan di Wing Fung Precious Metals.
Dua mesin permintaan emas terbesar dunia, India dan China, sama-sama sedang mengerem. Entah kebetulan atau tidak, kondisi ini terjadi justru ketika harga emas global masih bertengger di level tinggi akibat ketidakpastian geopolitik. Pertanyaannya: berapa lama pasar fisik bisa terus absen dari rally? Bagi investor yang mengandalkan lonjakan permintaan fisik sebagai katalis berikutnya, jawaban dari dua negara ini jelas bukan yang ingin mereka dengar.