SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Dexlite Melonjak 20%, Pertamax Masih Ditahan di Ba...

Bisnis

Dexlite Melonjak 20%, Pertamax Masih Ditahan di Bawah Harga Keekonomian

Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi secara bertahap pada awal September 2026, termasuk Dexlite yang melonjak hingga Rp4.000 per liter. Namun Pertamax masih ditahan di Rp15.950, padahal harga keekonomiannya sudah menyentuh Rp16.800.

Ekonom prediksi pertamax kisaran Rp16.800 per liter

Kenaikan BBM nonsubsidi awal September 2026 datang bertahap, tapi cukup untuk bikin pelaku pasar dan konsumen kendaraan diesel menarik napas panjang. Pertamina memilih dua hari berturut-turut sebagai momentum penyesuaian, bukan satu pukulan besar sekaligus.

Pada 1 September, Dexlite langsung terkerek dari Rp19.700 ke Rp23.700 per liter. Naik Rp4.000 dalam semalam, atau lebih dari 20%. Pertamina Dex bergerak serupa, dari Rp21.150 ke Rp25.200 per liter. Pertamax Turbo ikut naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter. Sehari berselang, giliran Pertamax Green 95 yang menyusul, dari Rp16.600 ke Rp19.150 per liter mulai 2 September.

Tapi yang justru lebih menarik dicermati adalah yang tidak bergerak. Pertamax tetap di Rp15.950 per liter sejak Agustus. Pertalite Rp10.000. Biosolar Rp6.800. Ketiganya tak tersentuh.

"Tidak naik" bukan tanpa harga. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menghitung harga keekonomian Pertamax kini ada di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per liter, setelah memperhitungkan harga minyak mentah dunia, kurs rupiah, biaya distribusi dan penyimpanan, margin, serta pajak. Selisihnya dengan harga jual: sekitar Rp750 hingga Rp900 per liter. Angka yang tidak bisa begitu saja menguap. Ia harus ditanggung di suatu tempat dalam neraca Pertamina.

"Keputusan pemerintah dan Pertamina menahan harga Pertamax di awal September ini merupakan pilihan yang cukup sadar untuk menjaga daya beli dan kondisi sosial masyarakat," kata Yusuf. Pilihan sadar, tapi bukan tanpa ongkos.

Dalam jangka pendek, Yusuf menilai kondisi ini masih bisa dikelola. Agaknya kalkulasinya begitu: tekanan finansial dari Pertamax sebagian bisa di-offset oleh margin dari Pertamax Turbo dan Pertamax Green yang sudah naik lebih dulu. Pertanyaannya, berapa lama skenario ini bisa bertahan? Kalau Pertamax terus dibekukan di bawah harga keekonomian dalam waktu panjang, Yusuf memperingatkan imbasnya bisa merambat ke margin, arus kas, laba, hingga ruang investasi di sektor hulu dan kilang.

Kenaikan bertahap ini bisa jadi sinyal: koreksi harga Pertamax bukan soal apakah, melainkan kapan. September ini, setidaknya menurut data yang ada, baru babak pertama.