Sepanjang tahun berjalan, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sudah amblas 50,1%. Bagi sebagian orang itu alarm bahaya, bagi sebagian lain itu undangan.
BRI Danareksa Sekuritas masuk ke kelompok yang kedua. Sekuritas milik Grup BRI ini mempertahankan rekomendasi beli DEWA dengan target harga Rp 610, mencerminkan potensi kenaikan 82,6% dari posisi penutupan Jumat (29/5/2026) di level Rp 334. Bukan angka yang bisa diabaikan.
Argumen valuasinya memang kuat. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas per Senin (1/6/2026), rasio PE trailing twelve months DEWA hanya 3,1 kali. Murah, terutama untuk emiten mid cap dengan ROE yang masih terjaga. BRI Danareksa memakai metode sum-of-the-parts untuk memisahkan dua lini bisnis utama: kontraktor batu bara dihargai dengan estimasi EV/EBITDA 2027 sebesar 7,7 kali, sedangkan segmen mineral dipatok 1 kali nilai buku.
Katalis terbesarnya ada di anak usaha tambang emas, PT Gayo Mineral Resources. Manajemen DEWA tengah mengkaji opsi pendanaan pengembangan proyek ini, mulai dari pinjaman bank, IPO saham Gayo Mineral, hingga penerbitan obligasi. Gayo Mineral sudah memasuki eksplorasi tahap II. Tahap III ditargetkan tuntas 2027, dan pekerjaan EPC tambang baru bisa dimulai 2028. Pengumuman angka resmi sumber daya dan cadangan belum ada jadwal pastinya, agaknya manajemen masih menunggu hasil eksplorasi tahap III selesai dulu sebelum bicara ke publik.
Selain Gayo Mineral, pasar masih menantikan perolehan kontrak baru dari ekosistem Grup Bumi, yang secara historis jadi sumbu pendapatan utama DEWA.
Di sisi chart, ceritanya lain. Mei 2026 benar-benar menghajar DEWA. Dari area 525 di awal bulan, saham ini terjun ke kisaran 320-an di pekan terakhir, koreksi sekitar 36,3% hanya dalam satu bulan. Masif. Tekanan jual sempat brutal, terutama pada 25 Mei ketika net foreign sell menembus Rp 56,9 miliar disertai lonjakan volatilitas yang cukup agresif.
Sinyal perbaikan mulai muncul di akhir bulan. Pada perdagangan 29 Mei, nilai transaksi mencapai Rp 142,6 miliar dengan volume 4,22 juta lot dan frekuensi 22,1 ribu kali. Data foreign flow menunjukkan pembelian asing Rp 31,89 miliar versus penjualan Rp 30,55 miliar, menghasilkan net foreign buy tipis sekitar Rp 1,34 miliar. Beda jauh dibanding sesi-sesi sebelumnya yang masih dihantui tekanan asing.
Struktur orderbook juga mulai bercerita. Bid tebal bertumpuk di area 320-334, dengan antrian beli di level 334 mencapai lebih dari 691 ribu lot. Tapi offer di kisaran 340-350 masih menumpuk, sekitar 1,54 juta lot. Supply belum bersih. Ruang kenaikan jangka pendek, kalau data ini bisa dipercaya, masih sesak.
Sejumlah pelaku pasar mulai melirik skenario buy on weakness di rentang 282-330 sebagai zona akumulasi, dengan target jangka pendek ke area 384-412. Batas bawah yang diwaspadai ada di 270, level yang kalau ditembus dengan volume besar bisa membuka babak volatilitas berikutnya.
Pertanyaannya sederhana: pemulihan bertahap atau sekadar technical rebound sebelum tekanan jual babak berikutnya? Awal Juni ini bisa jadi jawaban awalnya. Kalau volume beli konsisten bertahan di atas area 330, tesis bull mulai punya kaki untuk berdiri. Kalau tidak, nyangkut di sini bisa lama.