Tiga bulan setelah generasi kedua Denza D9 meluncur, BYD menyelipkan satu varian lagi di bawah entry point yang ada. Flash Charging Luxury Variant, namanya. Harganya 329.800 yuan, atau sekitar Rp870 juta, memotong sekitar 30.000 yuan dari varian paling murah sebelumnya.
Sebelumnya, saat D9 generasi kedua resmi diluncurkan April 2026, banderolnya berkisar antara 359.800 hingga 459.800 yuan, setara Rp949 juta sampai Rp1,2 miliar. Bukan diskon. BYD sengaja menciptakan entry point baru untuk memperlebar basis konsumen tanpa menggerus margin varian atasnya.
Yang menarik, teknologi intinya tidak disentuh. Sistem PHEV AWD dengan dua motor listrik tetap ada, begitu juga baterai Blade generasi kedua berkapasitas 58,5 kWh yang diklaim sanggup menembus 350 kilometer dalam mode listrik murni berdasarkan standar CLTC. Jarak tempuh gabungan? 1.480 kilometer. Bukan angka kecil untuk MPV keluarga.
Mesin bensin 1.500 cc turbo dengan tenaga 115 kW dan torsi 225 Nm dipadukan motor depan 200 kW serta motor belakang 45 kW, semuanya identik dengan saudara-saudaranya yang lebih mahal. Dari sisi penggerak, varian ini tidak kehilangan apa pun.
Teknologi Flash Charging juga utuh, arsitektur direct-drive dual-gun supercharging yang diklaim BYD mampu menuntaskan satu siklus pengisian penuh dalam sekitar sembilan menit pada kondisi pengujian internal. Di suhu minus 30 derajat Celsius pun, waktu tambahnya diklaim hanya tiga menit. Angka yang patut dicermati, meski dampak pengisian berulang dengan daya setinggi itu terhadap umur baterai jangka panjang, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, masih menjadi tanda tanya.
Sistem God's Eye 5.0 berbasis LiDAR juga dipertahankan lengkap: satu sensor LiDAR di atap, tiga radar gelombang milimeter 4D, 11 kamera, dan 12 sensor ultrasonik. Bukan fitur yang lazim dipertahankan di varian entry-level mana pun.
Lalu apa yang dicoret? Semua dari sisi kenyamanan kabin. Head-up display hilang. Layar hiburan 15,6 inci untuk penumpang depan tidak ada. Sistem pewangi kabin, trim kayu asli, fitur pijat dan penyangga pinggang kursi depan, pemanas dan ventilasi kursi baris kedua, semuanya amblas. Suspensi DiSus-C Intelligent Damping masih ada, tapi tanpa dual-valve mechanical hardware, sensor pembaca kondisi jalan, dan fitur iCVC intelligent control.
Agaknya terukur. Konsumen yang membeli MPV premium untuk operasional perusahaan atau perjalanan keluarga jarak jauh biasanya lebih peduli jarak tempuh, keamanan, dan waktu pengisian ketimbang kursi berpijat atau layar tambahan di dasbor.
Penjualan Denza sendiri sedang melesat. Data China EV DataTracker mencatat angka bulanan bergerak dari 10.638 unit pada April, ke 15.620 unit di Mei, lalu melonjak ke 18.631 unit pada Juni 2026. Masif. Kehadiran varian lebih terjangkau ini jelas diarahkan untuk menjaga momentum tersebut.
Bagi pasar Indonesia, ceritanya sedikit berbeda. PT BYD Motor Indonesia belum mengumumkan rencana peluncuran D9 PHEV, tapi sinyalnya makin terang. Head of PR and Government Relation BYD Indonesia Luther Panjaitan menyebut PHEV "sangat mungkin" dibawa ke tanah air. "Tentunya banyak yang mengharapkan kami membawa produk-produk baru lagi ke tanah air, khususnya ada yang berpendapat untuk line-up PHEV. Itu sangat mungkin untuk dibawa ke Indonesia," kata Luther. "Namun kami perlu memastikan beberapa hal terlebih dahulu," lanjutnya.
Dua faktor masih jadi pertimbangan: potensi pasar di segmen MPV premium dan regulasi yang berlaku. "Saat ini di Indonesia PHEV masih tergolong hybrid umum, tidak seperti di luar negeri yang juga tergolong EV. Mudah-mudahan kami bisa segera merampungkan rencana produknya sambil memantau kebijakan yang akan berlaku," ujar Luther.
Sinyal lain datang dari pendaftaran desain industri D9 PHEV ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual pada April 2025, berdasarkan Berita Resmi Desain Industri Nomor 27/DI/2025 dengan nomor permohonan A00202502079. Langkah administratif semacam itu jarang dilakukan tanpa rencana konkret di baliknya. Kalau memang masuk, D9 PHEV bakal langsung berhadapan dengan Toyota Alphard Hybrid dan Lexus LM di segmen MPV premium ramah lingkungan, setidaknya itu skenario yang paling masuk akal, di sebuah segmen yang selama ini nyaris tanpa pesaing serius.