Dolar relatif tenang. Euro tertahan di level tertinggi satu pekan. Pasar obligasi bergerak pelan. Gambaran kondisi global itu, agaknya, sedang menyimpan tenaga sebelum momen yang benar-benar ditunggu: pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan keluar Rabu malam waktu AS, atau Kamis dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.
Bukan cuma keputusan suku bunga yang diintip pelaku pasar kali ini. Rapat Juni 2026 ini adalah debut Kevin Warsh sebagai Ketua The Federal Reserve, menggantikan Jerome Powell yang lengser setelah Warsh resmi dilantik 22 Mei lalu. Warsh bukan muka baru di lingkungan bank sentral AS, ia sempat duduk di Dewan Gubernur The Fed antara 2006 hingga 2011, sebelum lama berkiprah di sektor keuangan dan pemerintahan. Tapi memimpin rapat FOMC adalah cerita yang sama sekali berbeda.
Soal suku bunga, suspensenya tipis. Data CME FedWatch Tool menunjukkan 99,6% pelaku pasar sudah yakin The Fed bakal menahan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%. Nyaris bulat. Pertanyaannya bukan apa keputusan malam ini, tapi ke mana arah kebijakan setelah ini.
Konteksnya tidak mudah bagi Warsh di rapat pertamanya. Inflasi konsumen AS atau CPI Mei 2026 tercatat naik 4,2% secara tahunan, dari 3,8% di April. Secara bulanan juga naik 0,5%. Inflasi inti atau core CPI masih di 2,9% tahunan, belum turun ke target 2% yang dikejar The Fed. Data ini mempersempit ruang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, sekaligus belum cukup kuat untuk membenarkan kenaikan. Situasi yang, kalau data ini bisa dipercaya, bakal membuat Warsh harus hati-hati betul dalam memilih kata.
Ada komplikasi lain. Konflik AS-Israel melawan Iran yang berkobar sejak 28 Februari 2026 sempat mengerek harga minyak menembus US$100 per barel sebelum kembali ke kisaran US$80. Lonjakan energi sekelas itu bisa merembet ke logistik, transportasi, dan harga barang konsumsi, membuat inflasi lebih lengket dari yang sudah-sudah. Kabar baiknya, Presiden Trump pada Minggu (14/6) menyatakan AS dan Iran sudah menemukan titik temu, dengan perjanjian damai yang disebut bisa ditandatangani pekan ini di Swiss. Apakah The Fed menilai kabar ini cukup untuk meredakan kekhawatiran inflasi energi, atau masih bersikap waspada, adalah salah satu hal yang akan dibaca pasar malam ini.
Selain keputusan suku bunga, ada dua dokumen yang tak kalah dicermati: Summary of Economic Projections (SEP) dan dot plot. Dalam SEP Maret 2026, The Fed sudah menaikkan estimasi inflasi PCE menjadi 2,7% untuk tahun ini, dari 2,4% di proyeksi Desember 2025. Inflasi inti PCE juga direvisi ke 2,7%, dari sebelumnya 2,5%. Pasar ingin tahu apakah angka itu akan dikoreksi lagi ke atas, mengingat data inflasi yang masih panas.
Dot plot Maret lalu mencatat median proyeksi satu kali pemangkasan di 2026 dan satu kali di 2027. Dari 19 peserta FOMC, tujuh orang sudah berpendapat suku bunga sebaiknya tidak diubah sepanjang tahun ini. Angka itu bertambah satu dibanding proyeksi Desember 2025. Pasar ingin melihat apakah jumlahnya bertambah lagi di dot plot terbaru. Sebelum konflik Timur Tengah memanas, ekspektasi pemangkasan sempat dua kali. Sekarang, satu kali saja sudah jadi skenario yang dianggap optimistis, setidaknya itu bacaan mayoritas pelaku pasar.
Konferensi pers Warsh pukul 01.30 WIB bisa jadi lebih penting dari semua dokumen itu. Gaya bicara, pilihan kata, penekanan yang ia buat, semuanya akan langsung dibedah: hawkish atau dovish, tegas atau masih mau tunggu dan lihat. Warsh yang terdengar hawkish berpotensi mengerek dolar dan yield obligasi AS, sementara saham, emas, dan mata uang negara berkembang bisa bergejolak. Sebaliknya, nada yang membuka ruang pemangkasan bisa jadi angin segar buat aset berisiko.
Debutnya malam ini adalah ujian komunikasi sekaligus ujian pembacaan pasar terhadap figur baru di kursi paling berpengaruh dalam kebijakan moneter global. Pasar sudah tahu angkanya. Yang belum terbaca adalah orangnya.