580 megawatt. Itulah kapasitas IT data center Indonesia pada semester pertama 2026, dan angka itu, kalau data BRIDS bisa dipercaya, baru bab pertama dari cerita yang jauh lebih panjang.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memproyeksikan kapasitas nasional melonjak ke 3,5 gigawatt pada 2030, setara CAGR 56,7 persen sepanjang periode 2026 sampai 2030. Cukup untuk bikin pelaku pasar modal tiga kali baca ulang.
Akar pergeserannya ada di peta regional. Singapura, selama bertahun-tahun jadi magnet data center Asia Tenggara, praktis kehabisan napas setelah moratorium pembangunan baru yang berlaku sejak 2019 hingga 2022. Malaysia sempat jadi pelarian favorit, tapi Johor kini mulai mengetatkan pengawasan pasokan listrik dan air sejak 2026. Investor butuh rumah baru. Indonesia menawarkan kombinasi yang sulit ditolak: lahan luas, populasi digital yang terus membesar, regulasi yang relatif ramah.
Secara nasional, 217 fasilitas data center sudah berdiri. Jakarta mendominasi dengan 116 unit atau 54 persen dari total, disusul Batam dengan 21 unit. Tapi angka operasional itu menipu kalau dibaca sendirian. Jakarta membawa rasio pipeline terhadap kapasitas operasional sebesar 5,3 kali, dengan 1,7 gigawatt proyek dalam antrean berbanding 322 megawatt yang sudah komersial. Batam bahkan lebih agresif secara proporsional: 1,4 gigawatt pipeline menumpuk di atas fondasi yang baru 126 megawatt. Jujur saja, yang terlihat hari ini baru kepala gunung esnya.
Permintaan datang dari dua mesin sekaligus. Cloud computing terus berakselerasi seiring digitalisasi bisnis dan layanan publik. Lalu ada kecerdasan buatan, yang memunculkan kebutuhan infrastruktur GPU-dense jauh lebih rakus daya ketimbang beban kerja konvensional. Operator dan investor global berlomba mengamankan lahan serta kontrak pasokan energi, bahkan sebelum bata pertama dipasang.
Bagi investor di bursa domestik, momentum ini agaknya tidak akan datang dua kali. Emiten dengan eksposur langsung ke ekosistem data center, mulai dari penyedia infrastruktur jaringan, pengelola kawasan industri berlistrik besar, hingga kontraktor spesialis mekanikal-elektrikal, semuanya berpotensi mengantongi limpahan kontrak dari gelombang pembangunan yang belum mencapai puncaknya. Pertanyaannya bukan lagi apakah boom ini nyata. Melainkan, emiten mana yang benar-benar siap mengeksekusi saat ordernya tiba.