JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Dari Data Center, Marina Budiman Satu-satunya Pere...

Bisnis

Dari Data Center, Marina Budiman Satu-satunya Perempuan di Top 10 Terkaya RI

Forbes Real Time Billionaires per 14 Juli 2026 menempatkan Marina Budiman di peringkat ke-8 orang terkaya Indonesia dengan kekayaan USD 5,7 miliar, satu-satunya perempuan yang masuk daftar tersebut berkat saham DCII.

Marina Budiman, Pebisnis Data Center yang Jadi Wanita Terkaya di Indonesia

Satu perempuan di antara sembilan laki-laki. Begitulah potret daftar 10 orang terkaya Indonesia versi Forbes Real Time Billionaires per 14 Juli 2026, dan nama itu adalah Marina Budiman, co-founder sekaligus Presiden Komisaris PT DCI Indonesia Tbk (DCII).

Kekayaan bersih Marina tercatat sekitar USD 5,7 miliar atau setara Rp102,9 triliun, menempatkannya di posisi ke-712 dunia dan ke-8 Indonesia. Tepat satu tangga di atasnya duduk rekan sekaligus mitra bisnisnya, Otto Toto Sugiri, yang sudah lama dijuluki "Bill Gates Indonesia". Otto membukukan kekayaan USD 8 miliar atau sekitar Rp144,5 triliun, dengan peringkat global di posisi 460.

Dua nama, satu perusahaan. Keduanya mendirikan DCII pada 2011 bersama Han Arming Hanafia, dan kini perusahaan itu tumbuh menjadi pusat data Tier-IV pertama di Asia Tenggara, beroperasi di tiga lokasi: Cibitung, Karawang, dan Jakarta. DCII melantai di bursa pada 2021 dengan harga IPO Rp420 per saham. Angka yang sudah lama ditinggal jauh oleh harga pasar.

Perjalanan Marina ke puncak tidak dimulai dari data center. Perempuan kelahiran 1961 ini menempuh pendidikan ekonomi dan keuangan di University of Toronto sebelum kembali ke Indonesia dan memulai karier di Bank Bali pada 1985, tempat ia pertama kali bertemu Otto. Empat tahun berselang, ia bergabung dengan perusahaan teknologi informasi Sigma Cipta Caraka.

Puncak awal kolaborasi keduanya terjadi pada 1994: bersama Otto, Marina mendirikan Indonet, penyedia layanan internet pertama di Indonesia. Dua dekade sebelum startup digital menjamur, mereka sudah meletakkan fondasi infrastruktur internet nasional. Bukan main. Kepemilikan di Indonet akhirnya dilepas pada 2023.

Kini Marina mengantongi 22,51 persen saham DCII, tertinggi kedua setelah Otto. Porsi itulah yang menjadi mesin utama kekayaannya, seiring permintaan infrastruktur digital yang terus meledak. Pertumbuhan layanan cloud, kecerdasan buatan, transaksi digital, hingga regulasi penyimpanan data lokal mendorong kebutuhan pusat data di Indonesia terus bertambah. Kalau data investasi beberapa tahun terakhir bisa dipercaya, Indonesia kini jadi salah satu tujuan utama ekspansi data center perusahaan-perusahaan global.

Meski dua nama dari sektor teknologi berhasil menembus 10 besar, puncak daftar masih dikuasai pelaku usaha sumber daya alam. Low Tuck Kwong dari PT Bayan Resources bertahan di posisi pertama dengan kekayaan USD 15,9 miliar, disusul Prajogo Pangestu (USD 15,3 miliar) dan Robert Budi Hartono (USD 14,8 miliar). Nama-nama lain dalam daftar: Anthoni Salim, Tahir dan keluarga, Sri Prakash Lohia, Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, serta Theodore Rachmat.

Tapi ada yang berbeda kali ini. Untuk pertama kalinya, dua pengusaha dari satu sektor yang sama, data center, masuk bersamaan dalam 10 besar. Pertanyaannya, apakah ini anomali sesaat atau sinyal bahwa peta kekayaan Indonesia sedang bergeser? Agaknya pasar sudah punya jawabannya lebih dulu.