Dua konglomerat lama Indonesia, Prajogo Pangestu dan keluarga Bakrie, sama-sama dapat tiket masuk ke salah satu proyek ambisius pemerintah: mengubah sampah menjadi listrik. Lewat Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan entitas pelaksananya PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), delapan pemenang tender proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) tahap dua baru saja diumumkan, dan nama-nama terafiliasi dua grup besar itu ada di dalamnya.
Dari kubu Chandra Asri, yang masuk adalah PT Chandra Waste Energy, anak usaha tidak langsung PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) milik Prajogo, dengan kepemilikan 100%. Perusahaan ini tergabung dalam konsorsium Masa Depan Energi Indonesia bersama mitra asal Tiongkok, Beijing GeoEnviron Engineering and Tech Inc. Tugasnya: menggarap PSEL di kawasan Serang Raya berkapasitas 1.161 ton sampah per hari.
Satu detail yang menarik soal entitas ini. PT Chandra Waste Energy sebelumnya bernama PT Chandra Global Maritim, perusahaan yang semula bergerak di angkutan laut. Berdiri 2025, per laporan keuangan triwulan I/2026 yang tidak diaudit, total asetnya baru US$12.000 dan masih pra-operasional. Bukan angka yang imposan, tapi agaknya ini cuma "kendaraan" baru yang disiapkan untuk proyek berskala jauh lebih besar.
Langkah TPIA ke sektor energi bersih sebenarnya sudah lama dirintis. Sejak Agustus 2025, Chandra Asri Group mengimplementasikan cofiring RDF (Refuse-Derived Fuel) di boiler batu bara fasilitas mereka di Pulo Ampel, Serang, dengan porsi 5% dari total kebutuhan energi boiler. Pada Juli 2025, volume pemanfaatannya mencapai 60,33 ton sampah dengan estimasi reduksi emisi 29,63 ton CO2 ekuivalen. Kecil untuk skala industri, memang. Tapi ini cermin dari arah yang sedang mereka kejar.
Dari kubu Bakrie, PT Bakrie Power maju mewakili grup lewat konsorsium Mentari Citra Lestari bersama PT Acritas Karya Persada dan SUS Indonesia Holding Limited. Bakrie Power adalah anak usaha tak langsung PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) melalui PT Bakrie Metal Industries (BMI), dengan porsi kepemilikan 99,99%. Konsorsium ini akan menggarap PSEL Surabaya Raya berkapasitas 1.100 ton sampah per hari.
Berdiri sejak 1994, Bakrie Power sudah kenyang pengalaman di pembangkit listrik, dengan portofolio mencakup PLTU, PLTP, hingga proyek EPC photovoltaic. Induk usahanya, segmen infrastruktur dan manufaktur BNBR, membukukan pendapatan neto Rp3,11 triliun sepanjang 2025, turun dari Rp3,47 triliun di 2024. Tapi dari sisi laba bersih, segmen ini justru membaik: dari Rp355,56 miliar naik ke Rp571,74 miliar. Margin menggelembung meski top-line menyusut. Angka yang patut dicermati lebih jauh.
Proyek PSEL ini bukan berdiri sendiri. Di Bali, groundbreaking PSEL Denpasar Raya sudah dilakukan 8 Juli 2026. Nilainya Rp3 triliun, dirancang mengolah 1.500 ton sampah per hari dengan teknologi moving grate incinerator, ditargetkan beroperasi akhir 2027. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menyebut bahwa tanpa intervensi serius, tempat pembuangan akhir di seluruh Indonesia bisa lumpuh kapasitas pada 2028. Framing yang cukup menohok untuk mendorong urgensi proyek ini.
Di Bali khususnya, TPA Suwung kini menampung lebih dari 72 persen dari sekitar 1.600 ton sampah harian gabungan Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, dibuang langsung tanpa pengolahan berarti. PSEL Denpasar Raya diklaim mampu mereduksi volume sampah hingga 80-90 persen, sekaligus menghasilkan listrik dan menyerap sekitar 1.200 lapangan kerja hijau.
Pertanyaannya, berapa lama proyek-proyek ini bertahan dari risiko eksekusi di lapangan? Pemerintah memproyeksikan PSEL dibangun di 34 kawasan aglomerasi, mencakup 60-70 kabupaten dan kota. Ambisius, tidak diragukan. Tapi bagi investor, isu sesungguhnya bukan soal seberapa besar proyeknya, melainkan kapan aliran pendapatan komersial mulai terlihat nyata di laporan keuangan masing-masing grup.