Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin pada Mei-Juni lalu mulai kelihatan hasilnya. Inflow modal asing ke Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia tercatat dalam jumlah yang cukup mengejutkan, terutama bila dibandingkan kondisi kuartal pertama yang masih dihajar outflow.
Sepanjang Juni hingga awal Juli, SBN membukukan inflow sekitar Rp33 triliun. Padahal di kuartal I, posisi SBN masih negatif. Lebih mencolok lagi di SRBI: inflow periode yang sama menembus Rp72 triliun, sehingga secara kumulatif SRBI sudah mengantongi net inflow Rp174 triliun tahun ini. Angka yang tidak main-main.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut langkah ini sebagai repricing terhadap instrumen BI. "Jadi ini kita lakukan repricing, bukan hanya di SRBI tapi juga SBN," katanya dalam Investment Forum di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Rabu (15/7/2026). Kenaikan suku bunga, menurut Destry, dirancang sebagai front loading, bukan respons panik. Langkah terukur untuk menangkap persepsi investor sebelum tekanan inflasi dari volatile food dan faktor cuaca benar-benar tiba.
Logikanya sederhana. Ketika outflow besar terjadi dan risk premium Indonesia ikut mekar, investor akan meminta imbal hasil lebih tinggi sebelum mau menaruh uang di sini. Dengan menaikkan yield SRBI dan SBN lewat kenaikan suku bunga, BI pada dasarnya bilang: "Oke, imbal hasilnya kami perbaiki, sekarang masuk." Kalau data ini bisa dipercaya, strategi itu mulai makan.
Tapi ada sisi yang belum sembuh. Destry mengakui arus keluar di pasar saham masih terus berlangsung hingga kini. Jadi bagi yang sedang nyangkut di saham-saham dengan kepemilikan asing besar, belum waktunya terlalu lega.
Rupiah pada Kamis pagi menguat tipis 5 poin ke level Rp18.063 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp18.068. Bukan penguatan dramatis, tapi arahnya benar.
Sentimen positif datang dari dua arah sekaligus. Pertama, pernyataan BI soal intervensi di pasar Non-Deliverable Forward offshore yang sudah berjalan sejak April 2026, ditambah perluasan instrumen operasi moneter. Langkah ini memberi sinyal bahwa BI tidak cuma bicara soal stabilisasi, tapi punya amunisi nyata untuk mempertahankannya.
Kedua, data inflasi AS yang terbit lebih lemah dari ekspektasi. Inflasi konsumen tahunan Amerika melambat ke 3,5 persen pada Juni 2026, turun dari 4,2 persen di Mei, seiring penurunan tajam harga energi yang mendorong koreksi bulanan terbesar sejak April 2020. Inflasi inti pun melandai ke 2,6 persen per tahun. Muhammad Amru Syifa dari Research and Development ICDX menilai angka itu memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve punya ruang untuk mulai melonggarkan kebijakan, yang otomatis menekan permintaan dolar dan memberi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kesempatan menguat.
Dua tailwind dalam satu hari. Entah kebetulan atau tidak, momentumnya terasa rapuh selama ketidakpastian global belum mereda betul. Pertanyaannya, apakah inflow ke fixed income ini cukup konsisten untuk akhirnya menarik modal kembali ke ekuitas, atau sekadar persinggahan sementara sambil menunggu kondisi global lebih jernih?