Sebulan. Hanya dalam rentang satu bulan, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin, dari 4,75% menjadi 5,75%. Hasilnya tidak main-main: modal asing senilai Rp60,2 triliun sudah mendarat di pasar keuangan domestik hingga 17 Juni 2026.
Kenaikan BI Rate berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, BI mengejutkan pasar dengan kenaikan 25 basis poin di luar jadwal RDG bulanan pada 9 Juni 2026. Sebelum itu, kenaikan 50 basis poin sudah lebih dulu dilakukan di RDG Mei 2026. Kemudian pada RDG 17-18 Juni 2026, BI kembali mengerek 25 basis poin, mengunci suku bunga acuan di angka 5,75%.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti merinci komposisi inflow itu: Rp55,3 triliun mengalir ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sementara Rp4,9 triliun masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). Jauh lebih besar dibanding snapshot per 10-11 Juni, ketika inflow SRBI dan SBN nonresiden masing-masing baru menyentuh Rp15,11 triliun dan Rp3,91 triliun. Di luar dua instrumen itu, obligasi internasional perdana Danantara turut menyumbang Rp26,9 triliun dari kantong investor asing.
Imbal hasil yang kian menggiurkan jadi magnet utamanya. Rate SRBI tenor 12 bulan kini bergerak sekitar 7,5%, sementara yield SBN sempat menembus 7% sebelum kembali ke kisaran 7,02% saat konferensi pers. "Rate SRBI juga meningkat, di mana posisi tenor 12 bulan sekarang sekitar 7,5%. Yield SBN sempat menyentuh di atas 7%, meskipun hari ini kembali ke 7,02%. Dampaknya memang tujuan kami mendatangkan inflow valas," ujar Destry dalam konferensi pers hasil RDG, Kamis (18/6).
"Dengan inflow yang masuk ini akan memasok tambahan valas di market kita, dan itu menjawab kenapa rupiah kita beberapa hari ini ada penguatan termasuk hari ini," lanjutnya.
Rupiah memang jadi titik fokus utama seluruh paket kebijakan ini. Di luar kenaikan BI Rate, BI juga meracik bauran tambahan: penguatan struktur suku bunga SRBI, insentif hedging swap bagi investor asing, fasilitas repo untuk menjaga likuiditas perbankan, hingga intensifikasi operasi moneter di pasar valas. Pengawasan transaksi dolar pun diperketat. Pembelian dolar AS oleh bank di atas US$10.000 kini wajib menyertakan underlying.
Tapi ada sisi lain yang patut dicermati. Ibrahim, pengamat yang mengikuti perkembangan ini, mengingatkan bahwa ruang untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut agaknya sudah menyempit. Kalau BI terus mengerek rate dan yield obligasi mendekati 8%, beban utang pemerintah bisa ikut membengkak. Bukan konsekuensi yang murah. Saat ini yield SUN tenor 10 tahun sudah di kisaran 7,4%.
Sentimen eksternal, jujur saja, belum sepenuhnya bersih. Ketidakpastian dari kebijakan dagang Presiden AS Donald Trump masih menggantung, dan konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan darurat BI Rate di awal Juni tetap menjadi variabel yang sulit dibaca. Yang agak menolong, kondisi oversupply minyak global berpeluang menekan harga minyak mendekati asumsi APBN, sehingga tekanan fiskal bisa sedikit longgar.
Bagi investor, cerita di balik angka Rp60 triliun ini lebih dari sekadar statistik arus modal. Ini sinyal bahwa pasar menganggap premium imbal hasil aset Indonesia saat ini cukup kompetitif untuk menanggung risiko. Pertanyaannya: sampai kapan spread yang cukup ini bisa dipertahankan tanpa membuat pemerintah kehabisan ruang fiskal?