RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Damai AS-Iran: Trump Sorak, Tapi Siapa Sebenarnya...

Internasional

Damai AS-Iran: Trump Sorak, Tapi Siapa Sebenarnya yang Menang?

Kesepakatan damai AS-Iran diumumkan Trump sebagai kemenangan besar, namun sejumlah analis menilai Washington justru keluar dari konflik ini dalam posisi yang lebih lemah dari sebelumnya.

Usai AS-Iran Damai, Trump Puji Teheran Kini Punya Pemimpin Rasional

Trump merayakan ulang tahunnya yang ke-80 dengan pengumuman yang ia sebut bersejarah. "Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai," kata Presiden Amerika Serikat itu pada Minggu (14/6/2026), sebelum melanjutkan dengan seruan dramatis agar kapal-kapal di seluruh dunia menyalakan mesin mereka dan membiarkan minyak mengalir kembali melalui Selat Hormuz.

Sehari kemudian, di sela KTT G7 di Prancis, Trump memuji Iran yang menurutnya kini dipimpin oleh orang-orang yang lebih waras. "Mereka sekarang memiliki kepemimpinan yang rasional, para pemimpin Iran yang sama sekali tidak rasional, sekarang sudah tiada," ungkapnya kepada wartawan, dikutip dari Al Jazeera. Ia menggambarkan perjanjian ini sebagai "tembok" yang mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, satu-satunya hal yang menurutnya benar-benar ia pedulikan dari seluruh proses negosiasi ini.

Penandatanganan resmi dijadwalkan di Jenewa, Swiss, pada Jumat (19/6/2026). Pengumuman awalnya justru datang dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang mempostingnya di akun X-nya sebelum Washington sempat merilis pernyataan resmi. Konfirmasi Iran menyusul tak lama kemudian, lewat Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi yang menyebutnya sebagai pengakhiran permanen konfrontasi bersenjata di semua lini, termasuk Lebanon.

Tapi di balik euforia itu, detailnya masih jauh dari jernih. Soal Selat Hormuz, Trump mengklaim selat itu akan "sepenuhnya dibuka" tanpa biaya tol. Klaim itu langsung berbenturan dengan laporan dari media pro-pemerintah Iran. Kantor berita Fars menyebut isu kedaulatan Iran-Oman atas Selat Hormuz dimasukkan dalam pembicaraan menit terakhir, dan bahwa AS telah "menerima" kemungkinan adanya pungutan bagi kapal yang melintas. Ketika dikonfirmasi Senin lalu, Wakil Presiden JD Vance memilih kalimat yang tidak menjawab apa-apa: Washington "mengharapkan" selat dibuka tanpa pungutan dalam jangka panjang, dan hal itu akan "dibahas lebih lanjut dalam negosiasi teknis."

Itulah yang membuat sejumlah analis mengernyitkan dahi. Rebecca Lissner, peneliti senior kebijakan luar negeri di Dewan Hubungan Luar Negeri, menilai konflik ini memperlihatkan paradoks besar Amerika. "Perang Iran menunjukkan keunggulan militer AS yang luar biasa, tetapi juga ketidakmampuannya mengubah keunggulan itu menjadi kemenangan strategis," katanya. Angkatan laut konvensional Iran memang luluh lantak dalam kurang dari 10 hari, sebagaimana dicatat Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS). Bukan hasil kecil. Tapi Iran tidak butuh armada konvensional untuk menyandera Hormuz. Drone, ranjau, dan kapal-kapal kecil sudah cukup untuk mengancam seluruh rantai pasokan energi global.

Ada satu angka yang beredar di kalangan analis: sekitar 12 miliar dolar AS dari dana Iran yang dibekukan disebut-sebut akan dikembalikan bahkan sebelum pembicaraan nuklir dimulai, semacam "uang muka" atas pembukaan selat. AS membantah ini. Kalau data ini bisa dipercaya, agaknya bukan gambaran kemenangan telak yang coba dijual Trump ke publik domestiknya.

Tidak ada yang mempertanyakan bahwa sebagian besar kepemimpinan militer Iran hancur akibat serangan udara AS dan Israel. Kondisi sipil Iran pun kian buruk akibat konflik, memperparah situasi masyarakat yang sebelumnya sudah dihajar penindakan keras saat memprotes pemerintah mereka sendiri. Tapi Trump, yang di awal konflik sempat menyinggung soal perubahan rezim, sudah lama tidak bicara tentang nasib rakyat Iran. Proksi Teheran di Yaman dan Lebanon, kata Lissner, masih hidup. Hubungan Iran dengan negara-negara Teluk ikut memburuk, berpotensi melahirkan ketidakstabilan yang lebih panjang.

Pertanyaannya, berapa lama kemenangan ini bisa diklaim?

Lissner menyimpulkan dengan kalimat yang keras. "Bahkan jika kesepakatan berhasil membuka kembali selat, Iran kini memiliki daya tawar yang sebelumnya tidak dimiliki. Amerika Serikat telah menunjukkan bahwa mereka tidak mampu atau tidak mau memaksa Iran membuka selat. Artinya, dunia harus hidup dengan risiko bahwa Iran bisa menutupnya kembali kapan saja."

Teks lengkap perjanjian belum dirilis. Vance bilang ada "protokol diplomatik" yang harus diikuti. Bisa jadi memang begitu. Bisa jadi juga ada hal-hal di dalam dokumen itu yang, kalau dibaca publik, akan mempersulit narasi kemenangan yang sedang dibangun Washington.