Tiga broker, satu emiten, hampir setengah triliun rupiah berpindah tangan di pasar nego dalam sehari. Itulah yang terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di Bursa Efek Indonesia, Senin (20/7/2026), dan angka-angka ini agaknya cukup untuk membuat pelaku pasar menoleh dua kali.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, crossing terbesar dilakukan lewat JP Morgan Sekuritas: 422,2 ribu lot saham di harga rata-rata Rp 6.523 per saham, nilai transaksi Rp 275,4 miliar. Mandiri Sekuritas menjadi jalur crossing berikutnya, senilai Rp 123,9 miliar untuk 189,9 ribu lot di rata-rata Rp 6.524. Macquarie Sekuritas Indonesia menyusul dengan 97,8 ribu saham senilai Rp 63,8 miliar. Total: Rp 463,1 miliar saham BBCA berpindah tangan di luar pasar reguler hanya dalam satu sesi.
Di pasar reguler, BBCA stagnan di Rp 6.475. Volume perdagangan 298,18 juta saham, frekuensi 43.899 kali, nilai transaksi Rp 1,95 triliun. Asing masih membukukan net buy, tapi tipis, hanya Rp 13,62 miliar. Jauh amblas dari Jumat (17/7/2026) yang sempat menorehkan Rp 698,29 miliar. Disparitas antara crossing masif di pasar nego dan net buy yang minimalis di pasar reguler inilah yang menarik dicermati. Bisa jadi ini rebalancing portofolio institusional besar, bukan akumulasi biasa.
Pertanyaannya, berapa lama posisi itu akan dipegang?
Untuk perdagangan Selasa (21/7/2026), CGS International Sekuritas melihat dua skenario. Risiko koreksi ada, dengan support pertama di 6.425 dan support kedua di 6.375. Ruang naik juga terbuka, resistance pertama di 6.575 dan kedua di 6.675. Selisih antara target atas dan bawah tidak terlalu lebar, mencerminkan kondisi saham yang sedang menanti katalis baru.
Fundamental BBCA sendiri memberikan alasan yang cukup kuat bagi asing untuk betah. Laba bersih kuartal I-2026 tercatat Rp 14,7 triliun, tumbuh 3,8% secara tahunan maupun kuartalan. Pertumbuhan ini ditopang peningkatan pendapatan non-bunga dan pengendalian biaya yang disiplin, meski NIM tergerus ke level 5,4%. Bank sebesar BCA masih bisa mengerek laba hampir 4% saat margin dihajar tekanan. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Portofolio kredit mencapai Rp 993,8 triliun, naik 5,6% year-on-year walau secara kuartalan nyaris flat di 0,1%. Penopang utamanya segmen korporasi, komersial, dan UKM. Yang lebih menarik justru di sisi pendanaan: CASA BBCA bertengger di Rp 1.089 triliun, melonjak 11,2% yoy. "Ini memperkuat keunggulan BBCA dalam memperoleh sumber pendanaan berbiaya rendah," tulis Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam risetnya.
Kualitas aset masih terkendali. Gross NPL 1,8%, LAR di 5,1%. Cost of credit naik ke 0,6%, tapi Liza membaca kenaikan itu bukan sebagai alarm, melainkan cerminan sikap BBCA yang lebih berhati-hati dalam mengantisipasi potensi risiko kredit.
Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga 12 bulan Rp 8.075, mengombinasikan metode P/BV dan dividend discount model. Target ini mencerminkan proyeksi P/BV 2026 sebesar 3,3 kali, sedikit diskon dari rata-rata tiga tahun terakhir di 3,4 kali. Dari harga Rp 6.475 saat ini, potensi upside ke target tersebut sekitar 24,7%. Angka yang tidak main-main untuk emiten dengan profil risiko sekelas BBCA.
Risiko utama tetap ada: tekanan NIM yang bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan, pertumbuhan kredit yang lebih lemah, dan kondisi makroekonomi yang belum sepenuhnya mendukung. Tapi entah kebetulan atau tidak, crossing senilai hampir setengah triliun itu seperti menjawab sendiri pertanyaan soal kepercayaan asing terhadap saham ini.