Hari yang sudah lama ditunggu akhirnya tiba. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) memulai masa bookbuilding untuk pencatatan saham sekunder di Bursa Efek Hong Kong (HKEX) pada Rabu, 17 Juni 2026, lewat skema Hong Kong Depositary Receipts (HDR) dengan kode saham 6228. Respons pasar langsung terasa, termasuk di Jakarta.
Di sesi pertama perdagangan hari ini, tercatat crossing jumbo di pasar negosiasi EMAS sebesar 455,11 juta saham dengan harga rata-rata Rp6.170 per lembar. Total nilai transaksi mencapai Rp2,81 triliun, menyumbang sekitar 40% dari seluruh nilai transaksi pasar modal Indonesia hingga pukul 11.00 WIB. Belum ada penjelasan resmi soal siapa yang jual dan siapa yang beli. Pasar sedang mencerna sendiri.
Saham EMAS merespons dengan koreksi 3,57% ke level Rp6.750, setelah sempat menyentuh tertinggi harian di Rp7.225. Pola klasik setelah aksi jumbo semacam ini. Yang patut dicermati, apakah transaksi tersebut bagian dari distribusi saham kepada cornerstone investors atau aksi korporasi lain yang berkaitan dengan proses HDR.
Daftarnya bukan nama sembarangan. Kelompok investor strategis yang berkomitmen menyerap saham EMAS di Hong Kong mencakup Wanguo Gold Group, CNGR (Hong Kong), Mercuria Holdings Singapore, Trafigura, Glencore International AG, hingga Intera Mining Investment. Di sisi keuangan, ada Ping An of China Asset Management, GF Fund Management, Eurus Holdings (ORIX), Dymon Asia, dan Wind Sabre Fund. Secara kolektif, para cornerstone investors ini berkomitmen menyerap 50% dari total saham penawaran dasar, tepat di batas maksimum yang diizinkan aturan HKEX.
Total penawaran global mencakup 89,67 juta HDR. Dari jumlah itu, 8,97 juta dialokasikan untuk publik Hong Kong dan 80,7 juta ditawarkan kepada investor internasional. Harga penawaran ditetapkan paling tinggi HK$26,60 per HDR, dan seluruh saham yang ditawarkan berasal dari pemegang saham eksisting. EMAS tidak akan menerima sepeser pun dari hasil penjualan ini.
MDKA, yang menggenggam 63,33% saham EMAS, juga menegaskan tidak akan melepas kepemilikannya. Emiten milik Edwin Soeryadjaya dan Winato Kartono ini agaknya ingin menjaga cengkeraman kendali tetap utuh meski arus likuiditas dari transaksi HDR bergerak di Hong Kong.
"Dukungan investor global dalam transaksi ini mencerminkan kepercayaan terhadap kualitas Tambang Emas Pani, kemampuan eksekusi EMAS, serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang kami miliki," ujar Boyke P. Abidin, Presiden Direktur Merdeka Gold Resources.
Klaim itu bukan tanpa dasar. Per 31 Desember 2025, Tambang Emas Pani mencatatkan sumber daya mineral 7,0 juta ounces emas dan cadangan bijih 5,2 juta ounces, baru dari area 135 hektar di sekitar pit utama, dari total konsesi 14.670 hektar. Pengeboran terbaru di Prospek Kolokoa menambah sekitar 445.000 ounces, mendorong total estimasi sumber daya menjadi 7,4 juta ounces. Manajemen memproyeksikan kapasitas pengolahan bisa mencapai 22 juta ton per tahun pada 2028, dengan puncak produksi sekitar 545 ribu ounces emas per tahun. Angka yang tidak main-main.
Bookbuilding dijadwalkan rampung 23 Juni 2026, dengan target perdagangan HDR perdana di HKEX mulai 26 Juni. UBS dan CITIC Securities bertindak sebagai sponsor utama, didampingi Morgan Stanley, HSBC, CICC, dan Macquarie sebagai koordinator global, serta DBS, Mizuho, OCBC, UOB Kay Hian, Société Générale, Natixis, dan Crédit Agricole sebagai joint bookrunners. Barisan underwriter sepanjang itu, kalau data ini bisa dipercaya sebagai tolok ukur, bisa jadi cerminan paling nyata dari seberapa serius EMAS dipandang di panggung pasar modal global.