MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Crossing Jumbo Rp 1,2 T dan Asing Serbu BBCA, Ada...

Bisnis

Crossing Jumbo Rp 1,2 T dan Asing Serbu BBCA, Ada Apa?

Saham BBCA melonjak 4% pada Jumat kemarin, ditopang net buy asing Rp 698 miliar dan transaksi crossing jumbo Rp 1,2 triliun via J.P Morgan yang masih misterius. Di balik itu, fundamental kuartal I-2026 tetap solid dengan laba Rp 14,7 triliun.

Di Balik Kenaikan BBCA 4 Persen, Muncul Transaksi Crossing Jumbo Rp 1,2 Triliun

Sepanjang pekan lalu saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus dihajar aksi jual investor asing, tapi Jumat (17/7/2026) situasinya berbalik total dan cukup dramatis untuk dicermati.

Di pasar reguler, BBCA ditutup menguat 4,02% ke Rp 6.475. Volume perdagangan meledak: 319,19 juta lot berpindah tangan, nilai transaksi tembus Rp 2,04 triliun dalam 56.470 kali transaksi. Asing yang sebelumnya konsisten net sell sejak 10 Juli kini membukukan net buy sekitar Rp 698 miliar, dengan foreign buy mencapai Rp 1,47 triliun melawan foreign sell Rp 775,97 miliar.

Tapi yang lebih menarik justru terjadi di luar pasar reguler.

Di pasar negosiasi BEI, muncul transaksi crossing jumbo senilai Rp 1,2 triliun yang melibatkan 1,9 juta lot saham BBCA di harga rata-rata Rp 6.400 per saham. Transaksi ini dieksekusi melalui broker berkode BK, yakni J.P. Morgan Sekuritas Indonesia, yang tercatat sebagai pembeli sekaligus penjual dengan nilai masing-masing Rp 1,2 triliun. Selain itu, broker HP (Henan Putihrai Sekuritas) juga mencatat transaksi negosiasi senilai Rp 492,8 miliar dengan 666 lot di harga rata-rata Rp 7.400 per saham.

Crossing semacam ini adalah mekanisme transfer kepemilikan saham dalam jumlah besar yang sah dan diawasi BEI, tidak melalui pasar terbuka sehingga tidak memberikan tekanan langsung pada harga. Tapi transaksi bernilai jumbo via J.P. Morgan selalu bikin pelaku pasar pasang kuping, karena biasanya melibatkan investor institusi besar atau perpindahan portofolio antar pemegang saham. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi soal identitas pihak yang bertransaksi maupun tujuannya.

Ada konteks fundamental yang agaknya turut mendukung sentimen positif terhadap BBCA. Laba bersih kuartal I-2026 tercatat Rp 14,7 triliun, tumbuh 3,8% yoy dan 3,8% qoq. Pertumbuhan ini ditopang kenaikan pendapatan non-bunga dan pengendalian biaya yang disiplin, meski NIM tergerus ke level 5,4%. Total kredit mencapai Rp 993,8 triliun, naik 5,6% yoy, terutama dari segmen korporasi, komersial, dan UKM. CASA tetap kokoh di Rp 1.089 triliun, tumbuh 11,2% yoy.

"Ini memperkuat keunggulan BBCA dalam memperoleh sumber pendanaan berbiaya rendah," tulis Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam risetnya. Kualitas aset pun masih terkendali: gross NPL 1,8%, LAR 5,1%. Cost of credit naik ke 0,6% yang, menurut Liza, mencerminkan sikap BBCA yang lebih berhati-hati dalam mengantisipasi potensi risiko kredit.

Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 8.075 untuk 12 bulan ke depan, menggunakan kombinasi metode P/BV dan dividend discount model. Target itu mencerminkan proyeksi P/BV 2026 sebesar 3,3 kali, sedikit di bawah rata-rata tiga tahun terakhir yang 3,4 kali. Risiko yang patut dicermati: tekanan NIM yang berkepanjangan, pertumbuhan kredit lebih lemah dari proyeksi, serta kondisi makro yang kurang bersahabat.

Untuk jangka pendek, CGS International Sekuritas merekomendasikan spec buy dengan support di 6.125. Potensi naik ke kisaran 6.325-6.425 selama level itu tidak jebol. Cutloss disarankan jika harga break di bawah 6.025.

Dari Rp 6.225 di Kamis, kini BBCA bertengger di 6.475. Lumayan. Tapi pertanyaannya sederhana: crossing Rp 1,2 triliun itu tanda masuk atau tanda keluar?