Kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup pada 4.603 ringgit per ton pada Selasa (21/7), turun 40 ringgit atau 0,86 persen dari sesi sebelumnya. Koreksi ini datang setelah satu sesi penuh ketegangan, ketika eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran sempat mendorong harga minyak sawit menyentuh 4.653 ringgit per ton.
Geopolitik jadi bahan bakar utama reli itu. Ketegangan AS-Iran yang memuncak, diperparah ancaman blokade laut dari kelompok Houthi di Yaman, membuat harga minyak mentah melonjak dan secara refleks menarik CPO ikut naik. Kontrak berjangka minyak nabati di bursa Chicago dan Dalian turut merespons, keduanya diperdagangkan jauh lebih tinggi, yang pada gilirannya memperkuat reli sawit.
Tapi Senin berakhir, Selasa lain ceritanya. Sesi Asia membawa kabar berbeda: kontrak minyak kedelai aktif di Dalian terkoreksi 0,45 persen, minyak sawit Dalian amblas 0,79 persen, dan CBOT ikut turun tipis 0,07 persen. CPO, yang memang kerap menguntit pergerakan minyak nabati pesaingnya karena berebut pangsa pasar yang sama, tak punya pilihan selain ikut terseret.
Seorang trader berbasis di Kuala Lumpur, dikutip Reuters, menyebut pasar dibuka lebih rendah mengikuti pelemahan minyak nabati pesaing selama jam perdagangan Asia. Ia menambahkan bahwa kontrak acuan masih mampu bertahan di atas level psikologis penting 4.600 ringgit.
Dua tekanan sekaligus menjepit CPO hari ini. Selain pelemahan minyak nabati pesaing, harga minyak mentah juga tergerus seiring munculnya laporan bahwa upaya mediasi AS-Iran mulai menunjukkan tanda-tanda. Minyak mentah yang lebih murah berarti CPO menjadi kurang kompetitif sebagai bahan baku biodiesel. Permintaan yang selama ini jadi penopang struktural harga sawit pun mulai goyah.
Dari sisi penawaran, data ekspor Malaysia periode 1-20 Juli mengirim sinyal yang saling bertolak belakang. AmSpec Agri Malaysia mencatat ekspor turun 0,9 persen dibanding periode yang sama bulan sebelumnya, sementara Intertek Testing Services justru mencatat kenaikan 4,1 persen. Beda angka antar surveyor ini, kalau data ini bisa dipercaya salah satunya, agaknya bikin pelaku pasar ogah ambil posisi tegas.
Anilkumar Bagani, kepala riset di Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, mengingatkan bahwa potensi kenaikan harga kemungkinan masih terbatas. Persediaan minyak sawit yang relatif tinggi di Indonesia dan Malaysia, dua produsen terbesar dunia, jadi bantalan yang meredam setiap upaya reli. Masif, tapi belum mematikan.
Satu faktor yang belum sepenuhnya terprice-in: ancaman El Niño. Departemen Meteorologi Malaysia memperingatkan bahwa negara itu berpotensi mencatat suhu tertinggi dalam sejarah tahun depan seiring menguatnya fenomena tersebut. Kalau produksi benar-benar terganggu, stok tinggi hari ini bisa jadi cerita lama lebih cepat dari perkiraan.
Di antara gegap gempita geopolitik dan tekanan dari Dalian, CPO sedang mencari pijakan baru. Apakah 4.600 ringgit akan bertahan sebagai support kuat atau sekadar pelampung sementara? Pasar yang akan menjawab, dan jawabannya belum tentu menyenangkan bulls.