SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  CPO Sepekan: Tarik Tambang antara Tekanan Global d...

Bisnis

CPO Sepekan: Tarik Tambang antara Tekanan Global dan Taruhan B50

Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini, ditekan stok melimpah dan pelemahan minyak kedelai, namun ditopang ekspektasi ekspor dan program biodiesel B50 Indonesia.

Harga CPO Bursa Malaysia 16 Juli 2026 Menguat Berkat Prospek Ekspor

Sepanjang pekan ini, harga minyak sawit mentah alias CPO bermain di dua sisi sekaligus: tekanan dari pasar minyak nabati global, dan harapan dari kebijakan biodiesel Indonesia. Hasilnya? Pergerakan yang lebih mirip tarik tambang ketimbang tren yang jelas.

Kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) membuka pekan dengan bias negatif. David Ng, trader dari Iceberg X Sdn Bhd, memprediksi harga akan bergerak dalam rentang RM4.450 hingga RM4.600 per ton, dengan sentimen yang menurutnya masih tertekan oleh pelemahan minyak kedelai dan minyak mentah global. Bukan ramalan tanpa dasar. Data Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) memang kurang ramah: stok CPO Malaysia per Juni naik 4,78 persen menjadi 2,54 juta ton, sementara produksi melonjak 8,08 persen ke angka 1,64 juta ton. Beban ganda yang sulit diabaikan pasar.

Pertengahan pekan, ceritanya berbelok. Pada Kamis, 16 Juli 2026, harga CPO berbalik menguat berkat prospek ekspor yang membaik. Data survei kargo menunjukkan pengiriman minyak sawit Malaysia sepanjang 1 hingga 15 Juli tumbuh antara 4 hingga 12,4 persen dibandingkan periode yang sama bulan Juni. Bak gayung bersambut, tingginya harga minyak mentah dunia akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz turut mendongkrak daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel. Malaysia sendiri sudah menaikkan harga referensi CPO untuk periode Agustus, meski bea keluar tetap dipertahankan di level 10 persen.

Penguatan ini tidak bebas hambatan. Ringgit Malaysia yang cenderung menguat membuat CPO terasa lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Harga minyak nabati saingan di bursa Dalian China dan Chicago Board of Trade (CBOT) justru terkoreksi bersamaan. Dua importir terbesar dunia pun memberi sinyal yang tidak menggembirakan: impor India pada Juni amblas ke level terendah dalam 14 bulan, sementara ekonomi China pada kuartal II-2026 melambat ke titik terendah sejak akhir 2022. Bukan detail kecil. Perlambatan dua raksasa konsumen itu langsung memengaruhi proyeksi permintaan jangka pendek.

Jumat, 17 Juli 2026, CPO menutup pekan dengan pelemahan tipis 0,22 persen, bertengger di kisaran MYR4.574 hingga MYR4.596 per ton di BMD, atau setara USD1.117 hingga USD1.122 per metrik ton di pasar internasional. Secara domestik, harga di tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) bertahan kokoh di Rp15.650 per kilogram per 16 Juli, mencerminkan ketatnya pasokan dalam negeri akibat transisi mandatori biodiesel dari B40 ke B50.

Program B50 ini patut dicermati lebih serius. Pemerintah Indonesia memperkirakan kebijakan tersebut akan mendorong penyerapan CPO domestik naik menjadi 16,3 hingga 17 juta ton, dan untuk pertama kalinya menghapus kebutuhan impor solar. Ng sendiri mengakui kebijakan ini berpotensi menjadi penopang harga dalam jangka menengah, kalau data permintaan domestik dalam beberapa bulan mendatang bisa mengkonfirmasi proyeksi itu. Dampaknya pekan ini? Belum sepenuhnya terbaca.

Dari sisi teknikal, kontrak Juli 2026 mengakhiri pekan dengan kenaikan RM16 ke RM4.455 per ton, sedangkan kontrak Desember 2026 melesat RM53 ke RM4.612 per ton. Volume perdagangan terkerek ke 431.847 lot dari 314.563 lot sepekan sebelumnya. Open interest justru menyusut ke 286.062 kontrak. Pasar ramai, tapi posisi baru belum banyak terbentuk. Agaknya pelaku pasar masih menunggu konfirmasi lebih lanjut sebelum berani ambil posisi besar, setidaknya itu yang terbaca dari angka-angka ini.