RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Cockroach Janta Party: Lelucon yang Berubah Jadi G...

Internasional

Cockroach Janta Party: Lelucon yang Berubah Jadi Gerakan Protes Gen Z India

Dari komentar hakim agung yang menyamakan pemuda India dengan kecoak, lahirlah gerakan satir yang dalam sebulan meraup 22 juta pengikut Instagram dan memaksa pemerintah Modi menjawab tuntutan jalanan.

Supporters of India's Gen Z 'cockroach' party stage first protest in New Delhi - France 24

Semua berawal dari komentar yang agaknya tidak disadari akan berbuntut panjang. Hakim Agung India Surya Kant, dalam sebuah sidang bulan lalu, melontarkan pernyataan bahwa ada anak-anak muda yang "bagaikan kecoak" karena tidak punya pekerjaan dan tidak memiliki tempat di profesi mana pun. Sebagian, kata hakim itu, berakhir jadi jurnalis, aktivis media sosial, atau pengaju permohonan informasi publik.

Anak-anak muda India ternyata tidak melupakannya.

Abhijeet Dipke, mahasiswa India berusia 30 tahun yang sedang kuliah di Boston, membaca komentar itu lalu melempar pertanyaan santai di media sosial: "Bagaimana jika semua kecoak bersatu?" Kalimat itu meledak. Pada 16 Mei 2026, ia resmi meluncurkan Cockroach Janta Party (CJP), partai satir yang namanya secara telanjang mengejek Bharatiya Janata Party (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi. Kurang dari sebulan kemudian, halaman Instagram CJP sudah diikuti lebih dari 22 juta akun, dan video-video aksi protesnya ditonton lebih dari 400 juta kali.

Bukan angka main-main untuk organisasi yang bahkan belum terdaftar secara resmi.

Peluncuran CJP tidak jatuh di ruang kosong. Tepat di periode yang sama, lebih dari dua juta peserta ujian masuk kedokteran nasional, National Eligibility cum Entrance Test (NEET), mendapat kabar bahwa ujian yang sudah mereka persiapkan bertahun-tahun itu dibatalkan karena dugaan kebocoran soal yang meluas. Ujian dijadwalkan ulang ke 21 Juni. Beberapa mahasiswa memilih mengakhiri hidupnya. Amarah publik menyala di mana-mana.

Ayush Shimpi, 20 tahun, dari distrik Gadchiroli di Maharashtra, adalah salah satunya. Dua tahun ia tinggalkan pendidikan formal demi fokus mempersiapkan NEET. Ketika keluar dari ruang ujian pada 3 Mei, ia lega. "Saya akhirnya keluar dari 'perlombaan tikus'," katanya. "Itu akhirnya berlalu begitu saja." Sembilan hari kemudian, pemerintah mengumumkan pembatalan. Dunianya runtuh.

Shimpi menggulir feed Instagram-nya dan menemukan CJP. Bagi jutaan pemuda yang merasa senasib, gerakan itu terasa bak gayung bersambut.

Tuntutan CJP konkret: mundurnya Menteri Pendidikan Federal Dharmendra Pradhan, yang dituding gagal mencegah kebocoran soal dan ketidakberesan dalam sistem ujian nasional. Petisi online yang mereka gaungkan sudah ditandatangani lebih dari 800.000 orang.

Dipke terbang pulang ke India pada 6 Juni dan, kabarnya, langsung dari bandara menuju Jantar Mantar di New Delhi untuk memimpin demonstrasi perdana CJP. Ia berpidato di bawah terik siang hari, memberi tenggat kepada Pradhan agar mundur pukul 17.00 hari itu. Pradhan tidak bergeming. Dipke lalu beri waktu tujuh hari. Aksi bubar sebelum pukul 16.00, dengan kehadiran kurang dari 2.000 orang, jauh dari hiruk-pikuk digital CJP. Sejumlah media menyebutnya "antiklimaks". Dipke sendiri harus dilarikan dari lokasi karena kelelahan kepanasan.

Saurav Das, juru bicara CJP yang juga seorang jurnalis, tidak menyangkal kesenjangan itu. "Untuk organisasi yang baru lahir kurang dari sebulan, kami berhasil mengumpulkan cukup banyak massa," katanya. "Banyak tantangan dalam memobilisasi orang di lapangan. Kami bukan organisasi atau serikat terdaftar. Untuk punya struktur seperti itu butuh waktu."

CJP tidak berhenti. Demo kedua digelar di sebuah universitas di Pune, pusat pendidikan Maharashtra, dengan tuntutan identik. Rencana berikutnya: kampanye demonstrasi nasional yang akan berujung kembali ke New Delhi akhir bulan ini, jika Pradhan masih bertahan di kursinya.

Jalanan tidak selalu ramah. Di Jaipur, Dipke diserang saat diusung para pendukungnya di atas pundak. Dua atau tiga orang yang berpura-pura sebagai simpatisan mendekat lalu menamparnya berulang kali. Video insiden itu beredar luas. "Serangan fisik adalah bukti rasa takut dan pengecut," tulisnya di X setelah kejadian. "P.S: Dharmendra Pradhan harus mundur!"

Modi akhirnya buka suara pada 13 Juni, menulis di X bahwa pemerintahannya tengah menuju "pembangunan yang dipimpin pemuda". Ia menyebut salah satu tanda paling kentara dari 12 tahun terakhir pemerintahannya adalah kepercayaan diri generasi muda India dalam mengejar aspirasi mereka. Klaim yang, kalau data di jalanan bisa dipercaya, masih jauh dari terbukti.

CJP justru berhasil menjangkau segmen yang biasanya menjauh dari politik. Agam Singh Gill, mahasiswa hukum 20 tahun di Pune, menghadiri aksi bukan karena terdampak skandal NEET secara langsung. "Anda tidak bisa mengklaim sebagai vishwaguru di satu sisi, namun memiliki ketidakberesan seperti ini dengan sistem ujian," tegasnya. Aarav Dwivedi, 17 tahun, nekat hadir di Lucknow meski orang tuanya melarang dan ia sempat khawatir polisi akan membubarkan massa paksa. "Sampai kapan korupsi ini terus berlanjut?" tanyanya.

Shimpi sendiri tidak bisa hadir di Pune, kampung halamannya hampir 900 kilometer jauhnya. Tapi ia tidak merasa absen. "Ini bagaikan suara saya didengar," katanya. Ia masih bermimpi menjadi dokter bedah saraf. Bagi dia, CJP bukan sekadar lelucon yang kebetulan viral.