RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  China Jadi Raja Ekspor, tapi Rakyatnya Makin Pelit...

Ekonomi

China Jadi Raja Ekspor, tapi Rakyatnya Makin Pelit Belanja

Produksi industri China melampaui ekspektasi di Mei 2026, tapi penjualan ritel justru ambles untuk pertama kali dalam lebih dari tiga tahun. Paradoks ini kini menjadi ujian terbesar bagi Beijing.

China Sukses Jadi Pabrik Dunia, Tapi Rakyatnya Belum Percaya Diri

Penjualan ritel China turun 0,6 persen pada Mei 2026. Kontraksi pertama sejak Desember 2022, dan pasar tidak siap dengan angka itu. Konsensus ekonom hanya memperkirakan stagnan, nol persen. Kenyataannya lebih buruk.

Libur Hari Buruh lima hari di awal Mei gagal menggerakkan dompet konsumen. Program tukar tambah barang yang sempat mendongkrak belanja masyarakat di awal tahun juga efeknya sudah habis, eh, maksudnya: efeknya sudah menguap. Hasilnya: konsumsi rumah tangga menyusut sementara ekspor sedang kencang-kencangnya. Kontradiksi yang, jujur saja, sudah lama menggantung di atas ekonomi China tapi baru sekarang betul-betul kelihatan di data.

Di sisi produksi, ceritanya berbeda. Output industri tumbuh 4,5 persen secara tahunan pada Mei, melampaui ekspektasi pasar sebesar 4,3 persen dan membaik dari 4,1 persen pada April. Ekspor melesat 19,4 persen. Lonjakan permintaan global terhadap teknologi AI dan energi terbarukan ikut mendorong lini produksi. Mayoritas hasilnya, namun, langsung meluncur ke pasar luar negeri, bukan ke kantong konsumen lokal.

Inilah yang oleh sejumlah ekonom disebut "K-shaped growth": satu kaki terus naik, satu kaki terus turun. Sektor manufaktur dan ekspor bergairah, sedangkan properti dan konsumsi rumah tangga tetap lesu. "Ada perbedaan antara permintaan domestik dan eksternal, antara AI dan industri tradisional, antara ritel barang dan konsumsi jasa," kata Xu Tianchen, Ekonom Senior di Economist Intelligence Unit. Xu memperkirakan pertumbuhan kuartal kedua melambat ke 4,5 persen dari 5 persen di kuartal pertama.

Data investasi tidak kalah mengkhawatirkan. Investasi aset tetap di kawasan perkotaan anjlok 4,1 persen sepanjang Januari hingga Mei, jauh lebih dalam dari proyeksi penurunan 2 persen dan memburuk dibanding kontraksi 1,6 persen pada Januari-April. Sektor properti masih jadi beban terberat, dengan investasi di sana tergerus 16,2 persen dalam periode yang sama. Investasi manufaktur bahkan mencatat kontraksi pertama sejak Desember 2020.

Satu angka yang agak menghibur: tingkat pengangguran turun tipis ke 5,1 persen dari 5,2 persen di April. Tapi angka itu perlu dibaca dengan skeptis, mengingat sekitar 12,7 juta lulusan baru akan memasuki pasar kerja musim panas ini, bersamaan dengan kekhawatiran soal otomasi dan AI yang mulai menggerus lapangan kerja.

Zhiwei Zhang, Presiden sekaligus Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, menyebut data ritel ini sebagai tekanan nyata bagi Beijing. "Data penjualan ritel yang lemah memberi tekanan pada pemerintah untuk mempertimbangkan langkah-langkah kebijakan guna menstabilkan konsumsi," kata Zhang. Ia memperkirakan penyesuaian kebijakan baru kemungkinan baru akan datang Juli, setelah data PDB kuartal kedua dirilis.

Sheane Yue dari Oxford Economics bahkan lebih pesimis soal prospek jangka pendek, dengan proyeksi pertumbuhan kuartal kedua di angka 4,2 persen, turun drastis dari 5 persen di kuartal pertama. Mesin pertumbuhan baru China, ia nilai, belum sanggup menggantikan peran model lama. "Perusahaan-perusahaan menanggung biaya yang lebih tinggi di tengah melemahnya daya tawar harga, yang menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan baru belum mampu mengimbangi dampak negatif dari model lama," kata Yue. Margin perusahaan terus tertekan, sementara target reflasi yang diinginkan para pembuat kebijakan masih jauh panggang dari api.

Ada ironi besar di sini. Ekspor yang kuat justru memberi alasan bagi Beijing untuk menunda langkah-langkah yang lebih mendasar, seperti memperbesar belanja sosial atau menstabilkan pasar properti. Selama ekspor masih menopang pertumbuhan, urgensi reformasi struktural terasa berkurang. Padahal lemahnya permintaan domestik itulah yang membuat produk China kompetitif di luar negeri: harga rendah karena deflasi, suku bunga murah, mata uang yang tidak terlalu kuat. Bak pedang bermata dua yang menyayat penggunanya sendiri.

China berhasil menyalip produsen mobil Jerman, mengambil pangsa pasar dari galangan kapal Korea Selatan, dan mempersempit jarak dengan desainer chip Amerika. Prestasi yang bikin banyak negara maju gelisah. Tapi di dalam negeri, penjualan mobil domestik malah turun bulan kedelapan berturut-turut pada Mei. Negara paling jago bikin barang di dunia, tapi warganya sendiri makin enggan membelinya.