SABTU, 19 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  China di Persimpangan: Mediator Iran atau Sponsor...

Internasional

China di Persimpangan: Mediator Iran atau Sponsor Teheran?

Washington menuduh Beijing mendanai Iran lewat pembelian energi senilai 90 persen, sementara Teheran justru meminta China turun gunung jadi mediator. Dua tuntutan yang saling bertabrakan ini akan memuncak di pertemuan Trump-Xi pada Mei mendatang.

Posisi China dalam perang AS-Iran makin susah dibaca. Bukan sekadar penonton, bukan pula sekutu sejati, Beijing kini diapit dua tekanan dari arah berlawanan: Teheran memohon agar China bertindak sebagai penjamin perdamaian, sementara Washington menuduh Beijing yang selama ini menanggung biaya perang Teheran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent melayangkan tuduhan keras menjelang kunjungan Trump ke Beijing pekan depan. Menurutnya, China membeli 90 persen ekspor energi Iran, dan dengan begitu menjadi sponsor terbesar negara yang Washington cap sebagai pendukung terorisme. "Iran adalah negara sponsor terorisme terbesar, dan China telah membeli 90 persen energi mereka, jadi mereka mendanai negara sponsor terorisme terbesar," kata Bessent kepada Fox News. Tidak tanggung-tanggung.

Dari arah sebaliknya, Teheran membuka pintu selebar-lebarnya. Mohamed Amersi, filantropis dan pengusaha yang punya jalur langsung ke negosiator Iran, menyebut bahwa Teheran ingin China bukan sekadar bersimpati tapi benar-benar turun tangan. Termasuk, secara harfiah, mengambil alih penyimpanan uranium pengayaan tinggi Iran yang kini tinggal selangkah dari ambang senjata nuklir.

"100%, mutlak, Iran menginginkan China. Jika China benar-benar ingin dihormati sebagai kekuatan yang sedang bangkit, mereka harus menyingsingkan lengan baju dan melakukan sesuatu. Ini bukan berarti memihak Iran. Mereka perlu menyampaikan kebenaran yang pahit kepada Iran dan juga pergi ke Amerika Serikat untuk mengatakan: 'Dengar, kami berada dalam posisi yang dipercaya oleh Iran'," ungkap Amersi dalam konferensi di Center for China and Globalization di Beijing akhir pekan lalu.

Kebuntuan ini sendiri bukan barang baru. Perang yang meletus sejak 28 Februari lalu mengguncang ekspor minyak Timur Tengah dan sempat membekukan jalur Selat Hormuz. Gencatan senjata sudah tercapai, tapi meja perundingan masih sedingin batu. Washington bersikeras Iran harus menghentikan pengayaan uranium, membekukan program rudal, dan memutus dukungan ke kelompok proksi. Teheran menuntut kompensasi penuh atas pengeboman AS dan Israel sejak konflik pecah. Dua posisi yang, kalau data ini bisa dipercaya, masih sangat jauh dari titik temu.

Trump sendiri mengakui ia tidak "terlalu kecewa" dengan sikap China sejauh ini, sambil menyiratkan Beijing bisa berbuat lebih. "Mereka bisa membantu lebih banyak lagi. Saya tidak merasa sangat kecewa," katanya kepada Fox News. Kalimat yang terdengar seperti undangan, sekaligus tekanan.

Di Beijing, kalkulasinya tidak sederhana. Henry Huiyao Wang, pendiri CCG, melihat China sebagai pihak paling natural untuk menengahi karena punya kepercayaan kedua belah pihak. "Jika ada keinginan di kedua belah pihak untuk tenang, mungkin sangat mudah bagi China untuk menjadi pihak ketiga yang menengahi," ujarnya. Pertanyaannya, apakah Beijing benar-benar mau?

Akademisi Shou Huisheng dari Beijing Language and Culture University mengingatkan bahwa AS tetap prioritas utama diplomasi Beijing. "Tidak ada alasan bagi China untuk membantu mereka, karena itu pasti akan menyakiti China dengan membuat Amerika marah. AS lebih penting bagi China," tuturnya. Bak pedang bermata dua: semakin aktif China di Iran, semakin rumit hubungannya dengan Washington.

Hubungan China-Iran sendiri bukan soal diplomasi semata. Laporan The Diplomat mengungkap pola yang sudah berlangsung puluhan tahun: barter minyak dengan teknologi dan material strategis untuk mengelabui sanksi internasional. Beijing secara resmi membantah tuduhan kerja sama militer. Fu Cong, Duta Besar China untuk PBB, menyebut tudingan itu sebagai informasi "palsu".

Fu, dalam keterangannya di Markas PBB pada 1 Mei, justru mendesak agar gencatan senjata dipertahankan dan Selat Hormuz segera dibuka. Ia bahkan memprediksi bahwa jika blokade belum berakhir saat Trump tiba di Beijing, isu ini akan mendominasi seluruh agenda pertemuan.

Menarik juga membaca peta dari sisi akademisi Tsinghua, Da Wei. Ia menilai perang ini justru secara tidak sengaja memperkuat posisi internasional China. Kebijakan perang Trump, menurutnya, telah menggerus kredibilitas AS di mata dunia, membuat Beijing lebih leluasa dari tekanan Barat dibanding dua tahun lalu. Wang dari CCG agaknya membaca peta yang sama ketika menyiratkan kemungkinan barter kepentingan: pelonggaran tekanan AS terhadap China dibalas peran Beijing yang lebih aktif menstabilkan Iran. "Jika AS dapat merelaksasi tekanan mereka terhadap China, China tentu bersedia melakukan lebih banyak," pungkas Wang.

Pertemuan Trump-Xi di Beijing, 14-15 Mei, menanggung beban yang jauh lebih berat dari sekadar agenda perdagangan. Di atas meja ada Iran, Selat Hormuz, uranium. Dan satu pertanyaan yang belum terjawab: seberapa jauh Beijing bersedia bertaruh untuk memainkan peran yang selama ini hanya diimpikan Teheran?