SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BYD Geser Honda, Astra Tetap Raja: Potret Pasar Mo...

Bisnis

BYD Geser Honda, Astra Tetap Raja: Potret Pasar Mobil RI Semester I/2026

Pasar otomotif nasional tumbuh 15,9 persen di semester pertama 2026, tapi kejutan terbesarnya bukan dari angka totalnya, melainkan dari siapa yang kini duduk di posisi lima besar.

Mobil Terlaris Indonesia Semester I/2026: BYD Ancam 5 Besar Jepang

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, pasar otomotif nasional membukukan wholesales 436.564 unit, tumbuh 15,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka yang cukup untuk membuat pelaku industri sedikit bernapas lega, setelah tekanan daya beli konsumen yang membayangi sebagian besar 2025.

Tapi soal siapa yang paling diuntungkan dari pertumbuhan ini, jawabannya lebih kompleks dari sekadar melihat angka total.

PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penjualan 222.371 unit di semester pertama, naik 10,3 persen dari 201.633 unit setahun sebelumnya. Dominasi konglomerat otomotif ini tidak perlu dipertanyakan, tapi ada satu angka yang patut dicermati: pangsa pasar Astra justru turun dari 53,5 persen ke sekitar 51 persen. Pasar tumbuh lebih cepat dari Astra sendiri, dan itu berarti ada pemain lain yang mulai menggerogoti kue.

Siapa? Tidak sulit menebaknya.

BYD kini resmi bertengger di peringkat kelima wholesales nasional dengan 23.257 unit, mengungguli Honda yang membukukan 20.673 unit. Bukan pencapaian kecil. Lima besar pasar mobil Indonesia selama bertahun-tahun identik dengan nama-nama Jepang, Toyota, Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi, Honda, nyaris tidak pernah ada yang menyela urutan itu. BYD memang masih relatif baru di sini, tapi agaknya kehadiran mereka sudah melampaui sekadar "pemain baru yang menarik perhatian."

Di sisi penjualan ritel, persaingan BYD dan Honda bahkan lebih menegangkan. Honda masih unggul di posisi kelima dengan 23.847 unit, BYD membayangi tepat di belakangnya dengan 23.188 unit. Selisih 659 unit dari total penjualan enam bulan. Satu kuartal dengan momentum yang sedikit berbeda, posisi itu bisa berbalik.

Hierarki atas tidak banyak bergeser. Toyota lewat Astra membukukan 134.520 unit termasuk Lexus, kokoh di puncak dengan pangsa sekitar 30,7 persen dari pasar nasional. Daihatsu mengikuti dengan 73.545 unit, Suzuki 36.319 unit, Mitsubishi Motors 32.588 unit.

Kejutan lain datang dari Jaecoo. Merek asal China yang mungkin belum terlalu familiar di telinga konsumen ritel itu mencatat wholesales 17.334 unit dan ritel 16.986 unit, cukup untuk menembus delapan besar nasional. Angka yang tidak main-main, mengingat Jaecoo berhasil melewati Wuling, Hyundai, bahkan Geely yang sudah lebih dulu beroperasi di sini.

Di segmen Low Cost Green Car (LCGC), Astra masih mendominasi dengan pangsa sekitar 78 persen dari total pasar LCGC yang mencapai 55.506 unit. Tapi volume penjualan LCGC Astra sendiri amblas 16,4 persen menjadi 43.279 unit. Sinyal bahwa segmen mobil murah mulai kehilangan daya tarik, atau bisa jadi konsumennya mulai bermigrasi ke segmen lain, termasuk kendaraan listrik yang harganya kian terjangkau.

Satu catatan yang patut diperhatikan investor ASII: UD Trucks mencatat penjualan hanya 416 unit di semester pertama, anjlok 62,5 persen dari 1.110 unit pada periode yang sama tahun lalu. Cukup untuk memunculkan tanda tanya soal kondisi segmen kendaraan komersial berat.

Pertumbuhan wholesales 15,9 persen memang terasa meyakinkan di atas kertas. Bagi pemegang saham ASII, yang lebih relevan adalah fakta bahwa pangsa pasar konglomerat ini terus menipis, sedikit demi sedikit, seiring merek-merek China mengisi ruang yang dulu nyaris tidak pernah terbuka. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bisa direm?