SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Bursa Asia Berdarah Imbas Eskalasi AS-Iran, IHSG K...

Bisnis

Bursa Asia Berdarah Imbas Eskalasi AS-Iran, IHSG Kebetulan Libur

Eskalasi militer AS-Iran memukul bursa Asia dengan KOSPI ambles 3,4% dan Hang Seng terkoreksi 2,3%. IHSG lolos dari tekanan, tapi hanya karena kebetulan sedang libur Idul Adha.

KOSPI ambles 3,4%. Hang Seng tergerus 2,3%. Dua angka itu cukup untuk menggambarkan betapa kerasnya pasar Asia dihantam berita perang Kamis kemarin, setelah eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali menyala, sementara negosiasi damai antara kedua negara yang sedang berjalan ternyata belum cukup solid untuk menahan pecahnya bentrokan.

Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan serangan defensif terukur ke Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis dekat Selat Hormuz, menargetkan unit drone milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Empat drone serbu ditembak jatuh, satu ground control station dihancurkan, sebelum drone kelima sempat terbang. Iran tidak tinggal diam. Rudal dan drone diluncurkan ke arah Kuwait, menargetkan aset militer AS di sana, memaksa sirene bahaya berbunyi dan sistem pertahanan udara bekerja keras mencegat proyektil yang masuk.

Selat Hormuz bukan jalur sembarangan. Sekitar 20% dari seluruh pasokan minyak dunia melintas di sana, dan ketika jalur itu terancam, pasar tidak butuh waktu lama untuk bereaksi. Sentimen risk-off menyebar cepat. Dolar AS sendiri agak tertahan karena data inflasi PCE Amerika yang keluar lebih lemah dari ekspektasi, sebuah kombinasi yang membuat pelaku pasar semakin gamang menentukan arah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak masuk daftar korban hari ini, bukan karena imun, tapi karena sedang libur cuti bersama Idul Adha 1447 H. Desmond Wira, penulis buku investasi yang kerap memantau pergerakan pasar regional, menangkap momen ini dengan ringkas. "Pasar saham Asia terkoreksi, seiring memanasnya kembali perang AS vs Iran. Yang paling parah: KOSPI -3,4%. Hang Seng -2,3%. IHSG 'terselamatkan' karena lagi libur. Entah Jumat nanti," tulisnya di akun X pribadinya, Kamis (28/5).

Nada itu agaknya lebih seperti pengingat daripada perayaan. Pasar saham punya kebiasaan melakukan catch-up terhadap sentimen yang terlewat saat libur. Pertanyaannya, seberapa dalam? Dengan kondisi geopolitik yang masih membara, ruang untuk optimisme terasa sempit.

Yang perlu dicermati adalah pergerakan harga minyak mentah dalam satu dua hari ini. Gangguan di sekitar Selat Hormuz secara historis langsung tercermin di harga crude, bak gayung bersambut, dan kenaikan harga energi punya efek domino ke inflasi, ke kebijakan moneter, sampai ke margin emiten-emiten berbasis energi dan logistik yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Investor ritel dengan posisi di sektor tersebut layak waspada, bukan panik, tapi setidaknya siapkan skenario.