MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BUMI Terbitkan Obligasi Rp 1,84 Triliun, Rp 1,5 Tr...

Bisnis

BUMI Terbitkan Obligasi Rp 1,84 Triliun, Rp 1,5 Triliun Langsung Mengalir ke Arutmin

PT Bumi Resources Tbk resmi mencatatkan obligasi berkelanjutan senilai Rp 1,84 triliun di BEI, dengan sebagian besar dana langsung dikucurkan sebagai pinjaman ke anak usaha PT Arutmin Indonesia untuk modal kerja operasional harian.

Bumi Resources Terbitkan Obligasi Rp 1,84 Triliun untuk Arutmin dan Modal Kerja

Sepanjang Mei 2026, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sudah bergerak cepat. Emiten batubara Grup Bakrie itu resmi menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap V Tahun 2026 senilai total Rp 1,84 triliun pada 26 Mei 2026. Hanya beberapa hari setelah dana masuk, Rp 1,5 triliun di antaranya langsung dialirkan ke anak usaha PT Arutmin Indonesia sebagai fasilitas pinjaman.

Obligasi ini terbagi tiga seri dengan kupon berjenjang. Seri A senilai Rp 600,04 miliar menawarkan kupon 7,50% dengan tenor hingga 6 Juni 2027. Seri B, yang paling besar, mencapai Rp 905,97 miliar dengan bunga 8,75% dan jatuh tempo Mei 2029. Seri C senilai Rp 333,86 miliar mengusung kupon tertinggi, 9,05%, dengan tenor terpanjang hingga Mei 2031. Seluruh seri mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 29 Mei 2026, dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk ditunjuk sebagai wali amanat.

Pefindo menyematkan peringkat idA+ untuk instrumen ini. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menilai peringkat itu cerminan kapabilitas BUMI dalam memenuhi kewajiban finansial jangka panjang. "Tingkat kupon obligasi tersebut dinilai masih kompetitif lantaran berada di atas yield rata-rata obligasi korporasi sekelasnya, sehingga bisa menjadi alternatif instrumen investasi yang defensif," ujarnya.

Struktur penggunaan dana sudah dirancang jauh sebelum obligasi terbit. Perjanjian pinjaman antara BUMI dan Arutmin diteken 28 April 2026, dengan plafon maksimum Rp 1,6 triliun yang dipecah dua tranche. Tranche A berplafon Rp 640 miliar, dikenai bunga 7,5% plus margin 0,5% per tahun. Tranche B berplafon Rp 960 miliar dengan bunga 8,75% plus margin serupa. Pencairan menunggu dana obligasi masuk. Begitu syarat terpenuhi pada 26 Mei 2026, pinjaman efektif bergulir hari itu juga.

Kenapa skema internal? BUMI terang-terangan menyebut pendanaan dari induk lebih efisien ketimbang Arutmin berburu pinjaman dari bank atau lembaga keuangan eksternal. Lebih cepat, tidak perlu jaminan tambahan, prosedur administrasi tidak berbelit. Bukan hal asing di grup tambang besar. Tapi skala dan kecepatannya layak dicermati.

Arutmin memang tulang punggung BUMI. Anak usaha yang 70% sahamnya dipegang BUMI itu menyumbang 83,29% total pendapatan dan sekitar 38% laba sebelum pajak perseroan per akhir 2025. Cadangan batubara Arutmin tercatat 327 juta ton per September 2024, cukup untuk lebih dari sepuluh tahun operasi dengan produksi tahunan sekitar 25 juta MT. Ada catatan yang tidak bisa diabaikan: stripping ratio Arutmin di kisaran 6-7x sepanjang 2022-2024, lebih tinggi dari kompetitor yang rata-rata 4-6x. Biaya operasional lebih berat dari kebanyakan pesaing, dan kebutuhan modal kerja memang tidak bisa dianggap enteng.

Sisa dana obligasi di luar pinjaman ke Arutmin dipakai untuk modal kerja BUMI sendiri, mencakup gaji karyawan, jasa profesional seperti audit dan konsultan, pajak, hingga biaya selisih kurs. Penerbitan ini mendorong DER perusahaan naik jadi 0,20x. Masih jauh di bawah batas maksimal 1,50x sesuai covenant pinjaman yang berlaku.

Di luar agenda pembiayaan rutin, BUMI juga agresif di jalur mineral kritis. Perseroan tengah menjajaki akuisisi Loyal Metals (LLM) asal Australia seharga US$ 79 juta, dengan proyek tembaga-emas Highway Reward di Queensland Utara sebagai aset utamanya. LLM juga memegang dua proyek lithium di Kanada. Sebelumnya, BUMI sudah menyelesaikan akuisisi 100% Wolfram Limited senilai Rp 698,98 miliar pada November 2025, lalu mencaplok 64,98% Jubilee Metals Limited pada Desember 2025. Ekspansi yang cukup padat dalam waktu singkat, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal arah jangka panjang.

Di lantai bursa, ceritanya berbeda. Per 26 Mei 2026, saham BUMI ditutup di Rp 166, melemah 2,92% dalam sehari. Sebulan terakhir amblas 27,19%. Secara year-to-date, sudah tergerus 60,48%. Angka yang tidak nyaman buat yang nyangkut di level atas.

Nafan mengakui ada sentimen negatif yang menghimpit, terutama normalisasi harga batubara dan tekanan suku bunga Bank Indonesia yang belum mereda. Maka meski katalis dari ekspansi mineral kritis terlihat menjanjikan, rekomendasinya saat ini masih wait and see. Agaknya, pasar ingin melihat lebih dulu apakah diversifikasi ke tembaga, emas, dan lithium itu benar-benar bisa mengimbangi tekanan di lini batubara yang selama ini menopang hampir seluruh pendapatan grup.