Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 3,45% ke Rp 180 pada Jumat (9/10/2026), seirama dengan PT Indika Energy Tbk (INDY) yang melejit 6,08% ke Rp 2.790, setelah kabar rencana akuisisi PT Kideco Jaya Agung kembali santer beredar.
Kabar itu bersumber dari DealStreetAsia dan sebelumnya dikonfirmasi Bloomberg, yang menyebut BUMI sebagai kandidat terkuat untuk mengantongi Kideco, aset batu bara termal terbesar Grup Indika, dengan nilai transaksi melebihi US$ 1 miliar atau sekitar Rp 18 triliun. Sejumlah nama lain juga masuk daftar peminat, termasuk Rio Tinto dan Emirates Global Aluminium. Rio Tinto sudah buka suara membantah pernah terlibat pembicaraan soal aset tersebut.
Manajemen BUMI memilih tidak terbawa arus spekulasi. Direktur BUMI R.A. Sri Dharmayanti, dalam surat tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia pada Senin (12/10), menegaskan perseroan tidak dapat berkomentar atas rumor pasar maupun transaksi yang masih bersifat hipotesis. "Setiap perkembangan korporasi yang material akan diungkapkan sesuai dengan peraturan dan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku," jelas Dharmayanti. Pernyataan standar, memang. Pasar agaknya sudah kadung mengambil kesimpulan sendiri.
Daya tarik Kideco bukan tanpa alasan. Sepanjang semester I-2026, perusahaan tambang itu mencatatkan produksi 15,2 juta ton batu bara, membukukan pendapatan US$ 855,09 juta, dan meraup laba bersih US$ 92,73 juta. Rata-rata produksinya mencapai 30 juta ton per tahun dalam tiga tahun terakhir. Bukan sekadar tambahan volume biasa.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai Kideco punya daya tarik strategis lantaran efisiensi biaya produksi dan cadangan batu bara yang besar. Valuasi di kisaran US$ 1 miliar dinilai Nafan masih masuk akal jika mempertimbangkan kemampuan Kideco mencetak arus kas operasional. Akuisisi ini juga berpotensi membantu BUMI memenuhi kewajiban Domestic Market Obligation.
Angkanya memang menggiurkan. Kalau Kideco berhasil dikonsolidasikan, produksi batu bara BUMI berpeluang melampaui 100 juta ton per tahun, naik jauh dari target 77-78 juta ton yang dicanangkan untuk 2026. Dari sisi keuangan, tambahan kontribusi dari Kideco bisa mencapai US$ 1,7 miliar hingga US$ 1,8 miliar per tahun, dengan tambahan laba bersih di kisaran US$ 180 juta hingga US$ 200 juta. Angka yang tidak main-main. Tapi angka itu juga datang dengan harga.
Pendanaan menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab. Founder Republik Investor Hendra Wardana mengingatkan bahwa manfaat akuisisi sangat ditentukan oleh kewajaran harga pembelian, skema pendanaan, dan kemampuan integrasi aset. Pinjaman perbankan berisiko mendongkrak rasio utang, sementara rights issue berpotensi mendilusi pemegang saham lama. Kombinasi keduanya pun bukan tanpa konsekuensi, apalagi ketika harga batu bara global sedang dalam tren normalisasi.
Bagi INDY, melepas Kideco ibarat pedang bermata dua. Pada kuartal I-2026, Kideco menyumbang US$ 377,4 juta atau 72,8% dari total pendapatan INDY. Kehilangan kontribusi sebesar itu tidak bisa dikompensasi begitu saja oleh likuiditas dari hasil divestasi, kecuali dana tersebut benar-benar dialokasikan secara produktif. Manajemen INDY punya ambisi mengurangi ketergantungan pada batu bara hingga 50% pada 2028, mundur dari target awal 2025, dan pendapatan dari segmen kendaraan listrik masih belum cukup untuk mengisi celah tersebut.
MNC Sekuritas memulai cakupan BUMI dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 300, mengindikasikan potensi upside 66,6% dari level saat ini. Nafan memasang target harga Rp 284 dengan rekomendasi trading buy, sementara Hendra lebih konservatif di Rp 200 dengan label speculative buy. Untuk INDY, Hendra memberikan rekomendasi serupa di target Rp 3.000 per saham.
Menariknya, investor asing justru memanfaatkan momentum untuk keluar. Net sell asing pada saham BUMI selama sepekan 5-9 Oktober mencapai Rp 83,2 miliar. Entah mereka tahu sesuatu yang tidak kita tahu, atau memang cuma memanfaatkan kenaikan untuk taking profit. Pertanyaannya, berapa lama euforia ini bertahan? Investor ritel yang ingin masuk agaknya perlu menunggu keterbukaan informasi resmi soal valuasi final dan skema pendanaan sebelum memutuskan langkah.