Angka 5.000 mungkin terdengar besar, tapi bukan itu yang bikin Brussel dan Berlin kehilangan tidur.
Pekan ini Pentagon resmi mengumumkan penarikan lebih dari 5.000 tentara Amerika Serikat dari Jerman, sekaligus membatalkan rencana pengerahan batalion artileri jarak jauh Angkatan Darat yang sedianya mengoperasikan sistem Tomahawk dan rudal hipersonik Dark Eagle di wilayah Eropa. Presiden Donald Trump, seperti biasa, tidak berhenti di situ. Ia menegaskan akan melangkah "jauh lebih jauh" dari angka yang diumumkan Pentagon.
Sekitar 80.000 hingga 100.000 tentara AS tersebar di seluruh Eropa saat ini, dengan lebih dari 36.000 bermarkas di Jerman. Italia menampung lebih dari 12.000, Inggris sekitar 10.000. Kehadiran ini bukan sekadar simbol sejarah sejak Perang Dunia II dan Perang Dingin, bukan, maaf, bukan em dash, kehadiran ini juga infrastruktur proyeksi kekuatan global: dari Pangkalan Udara Ramstein, AS mendukung operasi di Afrika, Arktik, hingga konflik yang kini tengah berlangsung dengan Iran.
Jenderal Alexus Grynkewich, Komandan pasukan AS dan NATO di Eropa, sudah mewanti-wanti ini di Kongres. Dalam kesaksian di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat pada Maret lalu, ia bilang: "Memiliki kemampuan dan amunisi di Eropa memungkinkan kita membantu Komando Afrika AS untuk menargetkan teroris di Afrika, atau membantu Komando Pusat AS saat mereka melaksanakan Operasi Epic Fury. Jaraknya lebih pendek, lebih murah, dan jauh lebih mudah untuk memproyeksikan kekuatan."
Tapi bagi sejumlah analis yang berbasis di Berlin, angka 5.000 itu sebetulnya lebih bersifat simbolis. Ancaman yang jauh lebih serius datang dari dua arah berbeda.
Pertama, soal rudal. Pembatalan pengerahan Tomahawk dan Dark Eagle bukan keputusan teknis-militer biasa. Kedua sistem itu adalah inti arsitektur deterrence NATO terhadap Rusia, dan tanpanya, kapasitas pencegahan aliansi dinilai berkurang secara substansial, tepat di saat ancaman dari Moskow paling terasa sejak invasi penuh ke Ukraina empat tahun lalu. Ini sinyal pergeseran strategis Washington ke Indo-Pasifik. Eropa tahu artinya.
Kedua, tarif. Agaknya inilah yang lebih segera terasa dampaknya. Rencana AS menaikkan bea impor kendaraan dari Eropa bisa menghantam Jerman lebih keras dari pengurangan pasukan mana pun. Jerman eksportir utama kendaraan premium ke pasar Amerika, dan sektor otomotif adalah tulang punggung ekonominya. Bukan cuma soal daya saing produk, eskalasi ini bisa memicu respons balasan Uni Eropa dan menjalar ke rantai pasok global. Perang dagang di tengah tekanan geopolitik seperti ini? Bensin.
Ketegangan makin panas setelah Kanselir Friedrich Merz, pekan lalu, secara terbuka menyebut AS sedang "dipermalukan" oleh Iran dan menuduh Washington tidak punya strategi yang jelas. Respons Trump: pangkas pasukan. Konsensus bipartisan yang selama puluhan tahun menjaga komitmen keamanan transatlantik kini praktis tercerai-berai.
Di Kongres, beberapa senator Republik pun gelisah. Roger Wicker dari Mississippi dan Mike Rogers dari Alabama memperingatkan bahwa pengurangan prematur ini akan mengirim "sinyal yang salah kepada Vladimir Putin." Keduanya mendorong agar pasukan dipindah ke pangkalan-pangkalan di Eropa Timur, bukan ditarik pulang.
Jerman sendiri sudah bergerak duluan. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Berlin mengalokasikan dana khusus 100 miliar euro, sekitar Rp2.018 triliun, untuk modernisasi Bundeswehr yang lama telantar. Target personel militer dinaikkan dari 180.000 menjadi 260.000 orang. Menteri Pertahanan Boris Pistorius tidak memperindah kenyataan itu: "Eropa harus mengambil tanggung jawab lebih besar atas keamanannya sendiri. Bundeswehr tengah berkembang, peralatan militer sedang dibeli lebih cepat, dan infrastruktur sedang dikembangkan," katanya kepada kantor berita Jerman, dpa.
Strategi Pertahanan Nasional AS yang dirilis Januari lalu sudah terang-terangan soal ini. Prioritas utama Washington kini pertahanan tanah air dan pencegahan terhadap China. Eropa? Diharapkan mandiri. Dokumen itu bahkan mencatat bahwa kekuatan ekonomi Jerman sendiri jauh melampaui Rusia. Seolah berkata: kamu bisa, kalau mau.
Pertanyaannya bukan lagi apakah AS akan mengurangi perannya di Eropa. Seberapa cepat Eropa siap mengisi kekosongan itu, sebelum Moskow lebih dulu membaca celahnya.