Pemegang saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) pulang dengan senyum lebih lebar tahun ini.
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Selasa (5/5/2026) menyepakati dividen tunai Rp1,51 triliun, setara Rp32,81 per saham. Naik 44% dari dividen tahun buku 2024 yang hanya Rp1,05 triliun atau Rp22,78 per saham. Kenaikan yang tidak kecil.
Dividen ini setara 20% dari laba bersih BRIS sepanjang 2025, yang oleh CNBC Indonesia tercatat Rp7,56 triliun. Sisa 80%, sekitar Rp6,05 triliun, masuk ke saldo laba ditahan untuk menopang ekspansi bisnis. Agaknya, ini cermin posisi BSI sebagai bank yang masih rakus tumbuh, bukan sekadar mesin pencetak dividen.
Soal arah kebijakan ini, Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho sudah bersuara lebih awal. "BSI memang agak berbeda dengan kebanyakan bank, di mana BSI itu memang baru saja memasuki growing stage. Jadi ketika suatu company atau suatu institusi seperti kami dalam growing stage, memang dividen payout biasanya menjadi second priority, setelah diskusi berapa agresif BSI bisa tumbuh," kata Cahyo dalam paparan kinerja virtual Februari lalu. Ia juga menegaskan bahwa kebijakan dividen pada akhirnya mengikuti keputusan pemegang saham utama, yakni pemerintah dan PT Danantara Asset Management (Persero).
Fondasinya? Laba yang tebal. BSI membukukan laba bersih Rp7,57 triliun di 2025, ditopang pembiayaan yang ekspansif, pertumbuhan dana murah, dan akselerasi digital. Nasabah tembus 23 juta per akhir tahun, bertambah lebih dari 2 juta sepanjang 2025 saja. Bukan main.
"Kami adalah bank syariah yang terus tumbuh, terlebih setelah memiliki dual licence sebagai bank syariah dan juga bullion bank," ujar Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo di sela RUPST. Kebijakan dividen, sambungnya, dijalankan secara seimbang antara memberi return kepada pemegang saham dan menjaga kekuatan modal untuk ekspansi.
Status bullion bank yang disebut Anggoro bukan basa-basi korporat biasa. Lini bisnis emas yang belum digarap bank lain secara menyeluruh itu bisa jadi cerita pertumbuhan tersendiri bagi BRIS dalam beberapa tahun mendatang, kalau data awal ini bisa dipercaya.
Di luar soal dividen, RUPST juga mengesahkan perubahan susunan komisaris. Wakil Ketua Umum MUI KH Muhammad Cholil Nafis masuk sebagai Komisaris Independen; Rektor Institut Agama Islam SEBI Sigit Pramono ditunjuk sebagai Komisaris. Keduanya belum efektif, masih menunggu fit and proper test dari OJK.
Dengan masuknya dua nama itu, jajaran komisaris BSI kini berjumlah delapan anggota, dipimpin Muhadjir Effendy sebagai Komisaris Utama. Susunan direksi tidak berubah, tetap dipimpin Anggoro Eko Cahyo.
Jadwal distribusi dividen belum diumumkan. Manajemen berjanji merilis informasi lebih lanjut soal tanggal pencatatan dan pembayaran. Investor yang ingin kebagian cuan wajib memastikan nama mereka tercatat di Daftar Pemegang Saham pada tanggal yang akan ditetapkan kemudian.