RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BRI Danareksa Pangkas Target IHSG ke 7.200, Jagoka...

Bisnis

BRI Danareksa Pangkas Target IHSG ke 7.200, Jagokan 8 Saham di Tengah Koreksi 34%

BRI Danareksa Sekuritas memangkas target IHSG 2026 dari 9.440 menjadi 7.200 setelah indeks terpukul lebih dari 33% sejak awal tahun, sambil menjagokan delapan saham pilihan dari BBCA hingga ANTM untuk rebound jangka pendek.

IHSG Ada Ramalan Baru, 8 Saham Dijagokan - Halaman all

IHSG sudah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya sejak Januari. BRI Danareksa Sekuritas akhirnya angkat tangan: target akhir tahun dipangkas dari 9.440 menjadi 7.200, pemangkasan yang cukup brutal untuk ukuran revisi mid-year.

Per 4 Juni 2026, indeks tercatat di kisaran 5.700, kehilangan 239,78 poin atau sekitar 4% hanya dalam satu sesi. Secara year-to-date, koreksinya sudah menembus 33,84%. Angka yang membuat banyak investor ritel tersedak.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, menegaskan bahwa pelemahan ini bukan sekadar efek domino dari tekanan pasar berkembang global. "Aksi jual yang terjadi mencerminkan peningkatan premi risiko Indonesia, bukan hanya bagian dari gelombang pelemahan pasar negara berkembang," tulis Erindra dalam risetnya.

Ada empat akar masalah yang saling memperkuat. Pertama, lonjakan harga minyak mentah akibat konflik Iran dan ancaman gangguan di Selat Hormuz, dengan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) sepanjang tahun berjalan mencapai US$88 per barel. Puncaknya sempat menyentuh US$117 per barel pada April. Bagi Indonesia yang statusnya pengimpor minyak bersih, ini pukulan fiskal yang nyata. Kedua, kebijakan pemerintah yang inkonsisten, mulai dari perubahan berulang regulasi royalti pertambangan hingga wacana ekspor satu pintu lewat BUMN. Ketiga, Moody's dan Fitch kompak memasang outlook negatif terhadap peringkat utang Indonesia. Tinjauan S&P pada Juli 2026 sudah masuk radar investor sebagai agenda panas berikutnya. Keempat, didepaknya enam saham konglomerasi besar dari MSCI Global Standard Indexes: PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), serta penurunan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke kategori Small Cap. Kombinasi semuanya menekan tombol jual dana-dana pasif global.

Total arus keluar dana asing dari bursa RI sepanjang tahun sudah mencapai US$3,1 miliar atau sekitar Rp55,37 triliun. Bukan angka kecil, bahkan untuk standar aksi jual di emerging markets.

Target baru 7.200 didasarkan pada proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) 2026-2027 sebesar 13-14%, dengan asumsi pertumbuhan sektor perbankan yang lebih konservatif di 4-5%. Premi aliran dana konglomerasi sebesar 40% yang sebelumnya melekat dalam model valuasi dihapus sepenuhnya. "Setelah tinjauan MSCI, alasan untuk mempertahankan premi tersebut sudah tidak lagi kuat," kata Erindra. Skenario optimistis menempatkan IHSG di 8.600, sementara bear case berada di 6.550.

Meski ada revisi besar, broker ini tidak menutup pintu untuk rebound jangka pendek. Pemulihan diperkirakan terjadi dalam enam hingga delapan pekan, atau sekitar pertengahan hingga akhir Juli. Tiga katalis yang diandalkan: tekanan teknikal rebalancing MSCI yang dinilai sudah hampir selesai, seasonal mereda memasuki kuartal III ketika kebutuhan valas untuk repatriasi dividen dan musim haji biasanya surut, serta narasi perang dan lonjakan minyak yang agaknya mulai mendekati puncaknya. Sebagai indikator, arus keluar dana asing di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sudah mencapai US$162,6 juta, hampir menyentuh estimasi agresif US$176 juta untuk seluruh proses rebalancing MSCI.

Selisih earnings yield IHSG terhadap imbal hasil obligasi pemerintah saat ini mencapai 242 basis poin. Jauh di atas rata-rata 11 tahun yang justru berada di negatif 31 bps. Dalam bahasa sederhana, pasar sudah menuntut kompensasi risiko yang sangat besar untuk mau parkir di saham Indonesia. Kondisi yang, kalau data ini bisa dipercaya, secara historis kerap mendahului pembalikan arah.

"Kami menilai profil risiko dan imbal hasil dari level saat ini masih cukup menarik dan bersifat asimetris ke arah positif," tulis Erindra. Klaim yang tentu masih perlu dibuktikan oleh pergerakan pasar.

BRI Danareksa membagi rekomendasi overweight ke dua kelompok. Pertama, saham dengan bantalan valuasi: BBCA (target Rp10.900) dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) di Rp3.300. Kedua, saham bertema pertumbuhan: PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) di Rp3.000, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di Rp4.900, dan PT Timah Tbk (TINS) di Rp4.500. Melengkapi daftar, sektor konsumsi dan perunggasan dengan profil risiko moderat: PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) di Rp10.500, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) di Rp9.400, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) di Rp5.900.

Satu agenda yang belum selesai. MSCI dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review 2026 pada 18 Juni, disusul Annual Market Classification 2026 pada 23 Juni. Hasilnya bersifat biner bagi pasar: apakah Indonesia bertahan di kategori emerging markets atau terancam degradasi lebih lanjut. Entah kebetulan atau tidak, jadwal itu persis beririsan dengan window pemulihan yang diramalkan BRI Danareksa. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan kalau dua risiko struktural itu belum benar-benar selesai?