Sepanjang Mei 2026, pasar minyak global menyaksikan pembalikan yang cukup dramatis. Brent ditutup di US$92,56 per barel pada Jumat (30/5), tergerus hampir 19% secara bulanan, koreksi terdalam sejak pandemi Covid-19. Dari puncaknya tahun ini, totalnya sudah 20%. WTI tidak jauh berbeda: amblas 16,5% secara bulanan ke US$87,18 per barel.
Pemicunya bukan misteri. Optimisme terhadap perpanjangan gencatan senjata AS-Iran mendorong pelaku pasar melepas posisi beli yang sempat menumpuk sejak konflik pecah 28 Februari. Kesepakatan sementara yang diumumkan 28 Mei mengusulkan perpanjangan gencatan 60 hari, jauh lebih substansial dibanding perpanjangan dua mingguan sebelumnya. Pasar membacanya sebagai sinyal de-eskalasi. Harga pun turun.
Tapi euforia itu agaknya terlalu tergesa. Kamis pekan lalu, pasukan Iran dilaporkan masih meluncurkan rudal balistik ke Kuwait dan mengirim drone serang ke arah Selat Hormuz. Belum ditandatangani Presiden Trump. Situasinya jauh dari selesai.
Data lapangan mengonfirmasi kondisi pasokan riil belum pulih. Volume pemuatan minyak mentah Iran pada Mei tercatat di bawah 300.000 barel per hari, anjlok dari rata-rata 1,5 juta bpd pada April dan 1,7 juta bpd pada Maret. Analis UBS yang dipimpin Henri Patricot, Direktur Eksekutif Riset Ekuitas Sektor Minyak dan Gas, mencatat aktivitas pemuatan di kawasan Teluk masih di level sangat rendah, dengan sedikit bukti perbaikan jangka pendek pada arus pasokan. Masif, memang.
Pada Jumat (29/5), IMF, Bank Dunia, IEA, dan WTO merilis pernyataan bersama yang bunyinya cukup keras. "Perang di Timur Tengah menimbulkan dampak yang besar dan sangat asimetris terhadap pasokan energi, ketahanan pangan, dan aktivitas ekonomi di berbagai negara dan wilayah," demikian bunyi pernyataan tersebut. Keempat lembaga itu juga memperingatkan bahwa "persediaan minyak global sedang berkurang dengan kecepatan mencapai rekor sebagai respons terhadap hilangnya pasokan besar-besaran melalui Selat Hormuz", jalur yang sebelum konflik mengalirkan sekitar 20% pasokan energi dunia.
Kalau arus pelayaran tidak segera normal, penyusutan cadangan menjelang puncak permintaan musim panas di Belahan Bumi Utara bisa jadi masalah serius. Negara-negara rentan kena duluan lewat kenaikan harga BBM dan pupuk, tapi limpahan krisisnya bisa melebar jauh lebih luas dari itu.
Citigroup menilai pasar mulai menemukan pijakan lebih stabil karena investor mulai memangkas skenario terburuk. Citi juga memperingatkan bahwa kenaikan harga energi yang berkepanjangan sudah mulai menimbulkan tekanan inflasi lebih luas, kondisi yang bisa mendorong sejumlah bank sentral mengambil posisi hawkish. Skenario yang tidak disukai pasar aset mana pun. Pertanyaannya, berapa lama pasar bisa mengabaikan risiko itu?
Bob Parker dari International Capital Markets Association, dalam kapasitasnya sebagai Penasihat Senior lembaga tersebut, memproyeksikan harga minyak bertahan di kisaran US$90 hingga US$100 per barel setidaknya beberapa bulan ke depan. "Bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka, pembukaan tersebut kemungkinan hanya berlangsung secara terbatas," ujarnya. Kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk kilang dan jaringan pipa, tidak bisa diperbaiki dalam semalam.
Bagi investor di Jakarta, ini bukan sekadar berita geopolitik dari jauh. Tekanan inflasi global yang bertahan, respons hawkish bank sentral, dan ketidakpastian rantai pasok energi adalah tiga variabel yang langsung menyentuh valuasi aset domestik, dari obligasi negara hingga saham sektor konsumer yang margin-nya sensitif terhadap biaya logistik. Negosiasi damai yang masih fragile bukan jaminan. Pasar, tampaknya, mulai sadar akan itu.