Empat tahun beroperasi, pabrik kosmetik ilegal di Mojokerto, Jawa Timur itu lolos dari radar pengawas. Baru sekitar sebelas hari lalu, setelah tim intelijen BPOM bergerak, fasilitasnya akhirnya dibongkar dengan total nilai barang sitaan Rp16 miliar.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut pabrik itu mulai berproduksi sejak 2021, memproduksi kosmetik yang dicampur bahan-bahan terlarang tanpa memenuhi perizinan usaha apa pun. Petugas menyita mesin produksi, bahan baku, produk jadi berupa krim, losion, dan toner, berikut kemasan polos yang diduga mengandung bahan berbahaya. Tanpa merek, tanpa izin edar.
Cakupan distribusinya yang bikin gelisah. Berdasarkan pengembangan kasus, produk-produk ini dipasok ke sejumlah klinik kecantikan di seluruh Indonesia, sampai Papua. Omsetnya Rp750 juta per bulan, sekitar Rp9 miliar per tahun. Terstruktur. Bukan operasi kelas rumahan asal jalan.
Penindakan dilakukan berdasarkan Pasal 435 dan 436 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, dengan ancaman pidana 12 tahun penjara dan denda Rp5 miliar. Taruna menyebut sejumlah orang masih dalam pemeriksaan dan kasus terus dikembangkan.
Kasus Mojokerto ini bukan soal pelanggaran administratif semata. Di balik produk murah tanpa label itu ada risiko kesehatan nyata yang kerap diabaikan konsumen. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr. Arieffah pernah mengingatkan bahwa kosmetik pencerah dengan harga sangat murah dan klaim hasil instan justru perlu dicurigai. Merkuri, yang kerap ditemukan pada produk semacam ini, bisa memicu keracunan saraf dan kerusakan ginjal bahkan pada pengguna yang tidak sedang hamil. Pada ibu hamil, risikonya berlipat, karena merkuri berpotensi masuk ke sirkulasi janin.
"Kenapa kok ini harganya murah tapi kok hasilnya bisa instan, cepat, dan bagus banget, nah itu tuh yang harus dihindari," kata dr. Arieffah. Ia mencatat produk semacam ini masih beredar di pasaran, sebagian dijual hanya beberapa ribu rupiah per satuan.
Bagi pelaku pasar kecantikan, pembongkaran di Mojokerto ini datang tepat ketika tren skincare murah terus tumbuh di kalangan konsumen kelas menengah bawah. Klinik kecantikan yang selama ini jadi ujung distribusi produk seperti ini, agaknya perlu lebih cermat memverifikasi legalitas bahan yang mereka pakai, sebelum reputasi mereka ikut terseret.