Sepanjang Rabu hingga Kamis pekan ini, pasukan Israel di Lebanon selatan kena hajar dari dua arah sekaligus: bom rakitan di darat dan drone di udara. Korbannya bukan sembarangan, seorang sersan senior tewas, sementara tujuh prajurit lain terluka, termasuk Wakil Komandan Divisi ke-36 berpangkat kolonel dan komandan batalion cadangan Brigade 556 berpangkat letnan kolonel.
Sekitar pukul 17.00 waktu setempat, tim tempur dari unsur markas Divisi ke-36, bersama personel Brigade Givati, sedang berpatroli berjalan kaki di wilayah Litani dekat kota Taybeh. Tiba-tiba sebuah IED meledak tepat di tengah formasi mereka. Angka korban perwira yang cukup tinggi dalam satu ledakan, agaknya, menjadi catatan tersendiri bagi pihak militer Israel yang kini mengumumkan penyelidikan internal.
Beberapa jam kemudian, dua drone bermuatan peledak mengincar pasukan Israel, termasuk unit evakuasi yang baru tiba di lokasi. Satu prajurit dilaporkan kritis. Hari yang sama, media pemerintah Lebanon, National News Agency, melaporkan drone Israel menewaskan dua orang di Kfar Tibnit dan satu orang lagi di desa Zebdine. Jadi pertempuran ini sama sekali tidak berjalan satu arah.
Hizbullah kemudian merilis pernyataan yang mengklaim tiga tank Merkava berhasil dihancurkan dan dibakar menggunakan rudal berpemandu. Serangan itu, kata kelompok tersebut, dilancarkan setelah pasukan Israel, terdiri dari satu peleton lapis baja dan satu peleton infanteri, berusaha menyusup ke sisi utara perbukitan Ali al-Taher, posisi strategis yang menghadap langsung kota Nabatieh. "Pertempuran masih berlangsung," tulis Hizbullah dalam pernyataan yang dirilis Jumat (19/6). Klaim kehancuran tiga Merkava sekaligus belum diverifikasi pihak Israel, tapi kalau benar, itu angka yang lumayan besar untuk satu kontak tembak.
Semua ini meletus tepat setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani Memorandum of Understanding di Islamabad. Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian meneken dokumen itu secara elektronik, dengan Pakistan sebagai mediator. Perdana Menteri Shehbaz Sharif ikut membubuhkan tanda tangan sebagai pihak penengah. Cukup bersejarah. MoU tersebut mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, penghentian konflik di sejumlah front, dan pembukaan kembali Selat Hormuz, yang langsung disambut positif oleh pasar energi. Sebuah kapal tanker LNG berbendera Prancis bernama Mraikh sudah tercatat melintasi Selat Hormuz tak lama setelah pengumuman.
Pezeshkian menyebut kesepakatan itu "dokumen bersejarah" dan mengunggahnya di akun X resminya. Mantan Presiden Hassan Rouhani, yang dulu mengawal perjanjian nuklir 2015, menyambut hangat dan menyebutnya sebagai kebanggaan rakyat Iran. Pemimpin Hizbullah Naim Qassem pun ikut bersuara, menyebut MoU ini "kemenangan besar", sembari menegaskan bahwa negosiasi Lebanon-Israel seharusnya tidak menyentuh soal pelucutan senjata kelompoknya.
Tapi Israel, entah kebetulan atau tidak, tidak menunjukkan tanda-tanda mengendurkan operasinya. Hizbullah sendiri yang menyeret Lebanon ke dalam konflik ini sejak Maret lalu, setelah menyerang Israel sebagai respons atas tewasnya Ayatollah Ali Khamenei. Israel kemudian membalas dengan invasi darat di Lebanon selatan. Kesepakatan AS-Iran mungkin mengubah peta geopolitik kawasan, tapi di lapangan, bom tetap meledak dan drone tetap terbang. Pertanyaannya sekarang, sampai kapan tempo pertempuran ini bisa dijinakkan oleh tinta di Islamabad.