John Bolton tidak basa-basi. Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS itu menuding Iran berhasil "memainkan Trump seperti sebuah biola" untuk meraup kesepakatan yang sepenuhnya berpihak ke Teheran. Pernyataan itu dilontarkan di sela-sela KTT G7 di Evian, Prancis, Senin (15/6/2026), dalam wawancara khusus dengan Euronews.
Akar masalahnya, menurut Bolton, sederhana tapi fatal. Trump terlalu terobsesi pada satu angka: harga bensin di pompa SPBU Amerika. "Trump tidak sedang memikirkan implikasi geo-strategis dari kesepakatan ini. Dia hanya memikirkan satu hal. Dia ingin selat (Hormuz) tetap terbuka. Dia ingin minyak Teluk berada di pasar internasional. Dia ingin harga bensin turun. Hanya itu yang dia pedulikan," kata Bolton.
Teheran membaca keputusasaan itu dengan akurat. "Dia sangat putus asa untuk mendapatkan kesepakatan. Dan mereka telah memanipulasinya," tutur Bolton. Bagi mantan penasihat yang pernah mendampingi Trump di periode pertama itu, kesediaan Washington berkompromi justru saat Iran tengah loyo pasca-serangan militer AS dan Israel adalah blunder yang sulit dimaafkan. Kesepakatan ini, kata Bolton, sekaligus memberi sinyal bahwa Washington tidak akan melancarkan serangan militer tambahan sebelum pemilu paruh waktu November. "Hal itu menghilangkan senjata terbesar yang kita miliki, pengaruh terbesar kita terhadap Iran," tegasnya.
Yang membuat Bolton makin gerah: teks kesepakatan itu sendiri tidak pernah dibuka ke publik. Detail soal batasan pengayaan uranium Iran, cakupan pelonggaran sanksi, sampai mekanisme konkret pembukaan kembali Selat Hormuz masih gelap gulita. Bolton menyindirnya tanpa tedeng aling-aling. "Jika itu adalah kesepakatan yang luar biasa, kesepakatan tersebut pasti sudah dibuka untuk publik. Dan saya pikir hal itu sudah memberi tahu Anda hampir semua hal yang perlu Anda ketahui."
Bukan angka kecil yang dipertaruhkan. Selat Hormuz adalah jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Cukup untuk bikin pasar energi global deg-degan berbulan-bulan.
Bolton juga menolak keras narasi Gedung Putih bahwa rezim Iran sudah berubah secara fundamental pasca-serangan. Kosmetik politik, nilainya. "Perubahan kepemimpinan itu hanya terjadi karena kita telah membunuh empat atau lima ratus orang teratas di rezim yang ada, dan sekarang Anda turun ke jajaran orang kedua dan deputi mereka. Jadi, ya, orang-orangnya berbeda, tetapi itu tetap rezim fanatik yang sama," cetusnya. Soal janji Teheran yang mengklaim tidak akan mengejar senjata pemusnah massal, Bolton bahkan tidak repot-repot meresponsnya dengan serius.
Dari Capitol Hill, dinamika politik domestik ikut memperkeruh gambar. Kubu Demokrat mendesak pemerintah segera membuka isi kesepakatan, menyebut seluruh episode ini sebagai kegagalan kebijakan luar negeri. Senat AS dilaporkan menolak rancangan undang-undang yang berupaya membatasi kewenangan perang Trump terhadap Iran, keputusan yang memberi ruang lebih luas bagi eksekutif untuk bermanuver tanpa pengawasan legislatif yang ketat.
Apakah Washington menukar keamanan nasionalnya demi harga bahan bakar yang lebih murah jelang pemilu paruh waktu? Bolton membenarkan tanpa ragu. "Saya rasa pada dasarnya memang seperti itu yang terjadi," katanya. Kesepakatan yang teksnya dirahasiakan, rezim yang diklaim berubah padaun belum, dan senat yang menolak membatasi kewenangan perang, entah kebetulan atau tidak, semuanya mengarah ke satu titik yang sama.