Sepanjang Kamis hingga Jumat pagi ini, Bitcoin dihajar dua tekanan sekaligus: kebijakan moneter AS yang semakin ketat dan data on-chain yang belum memperlihatkan tanda-tanda pemulihan sejati. Harga kripto terbesar di dunia tercatat di kisaran 62.890,29 dollar AS atau sekitar Rp 1,21 miliar per koin pada pukul 08.50 WIB, Jumat (19/6/2026), anjlok 2,51 persen dalam 24 jam terakhir.
Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa. Bitcoin sudah mulai bergerak ke zona merah sejak Kamis (18/6/2026) pukul 12.10 WIB, ketika harganya masih bertengger di 63.679,59 dollar AS sebelum akhirnya terjun ke bawah 63.000 dollar AS. Pelaku pasar menarik dana dari aset berisiko menyusul sikap Federal Reserve yang kian agresif dalam memperkuat dollar AS, memicu gelombang risk-off yang menyeret seluruh pasar kripto turun rata-rata 2,43 persen. Kapitalisasi pasar Bitcoin kini berada di kisaran 1,26 triliun dollar AS.
Korelasi Bitcoin dengan emas kini menyentuh 80 persen, angka yang cukup tinggi untuk dibaca sebagai pergerakan makro, bukan sekadar dinamika kripto semata. Ibarat pedang bermata dua: ini bisa jadi argumen bahwa Bitcoin makin matang sebagai aset, sekaligus konfirmasi bahwa ia tak kebal dari guncangan suku bunga.
Data on-chain dari Glassnode justru mempertegas kekhawatiran itu. Rasio Realized Profit/Loss rata-rata 30 hari berada di angka 0,53, jauh di bawah level netral 1,0. Artinya, realisasi kerugian masih mendominasi arus perpindahan koin. Short-Term Holder MVRV sudah sedikit pulih ke 0,90, tapi angka itu masih di bawah titik break-even. True Market Mean versi Glassnode ditempatkan di 77.200 dollar AS, sekitar 15 persen di atas harga spot saat ini. Selama harga masih jauh di bawah angka itu, sinyal bearish secara on-chain belum bisa dianggap tuntas.
Ada cerita lain di sisi likuiditas, dan ini yang membuat gambarannya tidak sepenuhnya suram. Order book spot Binance menunjukkan divergensi yang patut dicermati: bid pasif di area 60.000 dollar AS menguat, dengan selisih antara sisi beli dan jual mencapai titik terlebar dalam beberapa bulan terakhir. Para trader tampaknya lebih memilih menyerap suplai di harga bawah ketimbang menjual saat ada reli. Open interest pun sudah menyusut dari puncak akhir Mei, sementara funding rate bergerak mendekati netral. Deleveraging semacam ini, agaknya, menjadi sinyal bahwa basis pembeli yang lebih sabar sedang terbentuk.
Capriole Macro Index Oscillator mencatat angka -2,03, salah satu level terdalam dalam sejarahnya. Analis Charles Edwards menuturkan kunjungan ke zona sedalam ini sebelumnya hanya terjadi dua kali: sekitar empat bulan pada akhir 2018 dan dua bulan pada pertengahan 2022. Keduanya diikuti reli besar di siklus berikutnya. "Dalam 10 tahun terakhir, Bitcoin hanya menghabiskan waktu 6 bulan di level nilai dalam sedalam ini," ungkap Edwards. Seharusnya ini jadi peluang jangka panjang yang menarik, begitu penilaiannya, tapi ia menambahkan dua catatan yang belum pernah ada di siklus sebelumnya: risiko digital-asset-treasury dan ancaman komputasi kuantum yang kian nyata.
Secara teknikal, Bitcoin saat ini bertarung di zona pivot 64.000 hingga 66.000 dollar AS. Zona penentu. Breakout ke atas membuka jalan menuju resistance 74.000 hingga 76.000 dollar AS, sementara penolakan di sini berpotensi mengunci harga dalam rentang 60.000 sampai 65.000 dollar AS untuk waktu yang lebih panjang. Support di area 59.000 hingga 60.000 dollar AS harus bertahan, kalau tidak, lantai yang sedang dibangun ini bisa jebol sebelum sempat kokoh.
Bagi investor ritel yang sudah nyangkut di harga atas, data ini bukan kabar menggembirakan. Tapi bagi mereka yang masih memegang kas dan berani bersabar, zona harga ini, entah kebetulan atau tidak, bertepatan dengan apa yang analis makro sebut sebagai wilayah nilai dalam yang langka.