RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Bioetanol Juli 2026 Melonjak 35%, Biodiesel Berger...

Bisnis

Bioetanol Juli 2026 Melonjak 35%, Biodiesel Bergerak Sebaliknya

Kementerian ESDM menetapkan HIP bioetanol Juli 2026 di level Rp10.933 per liter, melonjak 35,6% dari bulan sebelumnya. Sementara biodiesel bergerak sebaliknya, turun tipis ke Rp14.562 per liter.

Accelerating the Biofuel Mix, Food Estates, and Greater Risks

Harga indeks pasar bioetanol Juli 2026 terkerek tajam ke Rp10.933 per liter, naik 35,6% hanya dalam satu bulan dari posisi Juni yang sebesar Rp8.062 per liter. Lonjakan sebesar itu dalam satu siklus penetapan harga bukan hal yang lumrah, dan pasar agribisnis seharusnya sudah mulai bergerak.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga indeks pasar (HIP) bahan bakar nabati untuk Juli 2026, dan dua komoditas ini bergerak berlawanan arah. Biodiesel justru turun, meski tipis sekali: dari Rp14.643 per liter pada Juni menjadi Rp14.562 per liter. Selisihnya cuma Rp81. Nyaris tidak terasa di pompa.

Penyebab lonjakan bioetanol ada di sisi bahan baku. Formula HIP bioetanol dihitung dari harga tetes tebu rata-rata KPB selama tiga bulan, dikalikan faktor konversi 4,125 kg per liter, lalu ditambah biaya konversi US$0,25 per liter. Harga tetes tebu rata-rata periode 15 Desember 2025 hingga 14 Juni 2026 tercatat Rp1.568 per kg, dengan kurs tengah Bank Indonesia Rp17.853 per dolar AS. Kurs yang masih di kisaran tinggi ini ikut mendongkrak angka akhir dalam denominasi rupiah.

Untuk biodiesel, hitungannya lain. HIP diperoleh dari harga CPO rata-rata KPB ditambah biaya konversi US$85 per metrik ton, dikalikan faktor densitas 870 kg per meter kubik. Biaya konversi CPO ke biodiesel itu tidak bergeser sejak Desember 2025. Yang agaknya sedikit mereda justru tekanan dari sisi harga CPO, dan itulah yang membuat HIP biodiesel bulan ini turun tipis. Kurs yang dipakai untuk biodiesel sendiri sedikit berbeda, yakni Rp17.895 per dolar AS.

Dua angka kurs yang tidak identik untuk dua komoditas ini mencerminkan periode rata-rata perhitungan yang memang berbeda antara bioetanol dan biodiesel. Entah kebetulan atau tidak, selisihnya cukup kecil tapi secara teknis relevan.

Dari sisi kebijakan, program mandatori biodiesel Indonesia tengah menuju B50, campuran 50% biodiesel dalam solar. Ambisi besar. Semakin tinggi kandungan biodiesel, efisiensi energi per liter secara teknis bergeser dibanding solar murni, sesuatu yang mulai dirasakan pengemudi truk dan kendaraan diesel jarak jauh.

Bioetanol lain ceritanya. Penetrasinya di pasar domestik masih jauh di bawah biodiesel, tapi kenaikan 35% dalam sebulan bukan sinyal yang bisa dilewatkan begitu saja. Pertanyaannya: apakah ini anomali satu bulan, atau awal dari tren yang lebih panjang? Bagi investor di sektor agribisnis dan energi terbarukan, pergerakan harga tetes tebu sebagai bahan baku utama sudah selayaknya masuk radar sekarang.