Pasar salah tebak. Konsensus analis yang sudah bulat memperkirakan kenaikan 25 basis poin ternyata tidak terwujud. Bank Indonesia memutuskan menahan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur periode Juli 2026 yang berlangsung Selasa-Rabu (21-22/7), kejutan yang bikin pelaku pasar mengangkat alis.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengonfirmasi suku bunga Deposit Facility tetap di 4,75% dan Lending Facility di 6,50%. Keputusan ini datang setelah BI sebelumnya menaikkan suku bunga secara agresif total 100 bps dalam dua bulan terakhir, serangkaian langkah yang sudah cukup berat bagi dunia usaha.
Alih-alih mengerek rate lebih tinggi, Perry menyebut BI memilih memperluas kebijakan insentif untuk menggenjot aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. "Bank Indonesia memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas, serta meningkatkan likuiditas dan mengatasi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan," kata Perry dalam konferensi pers hari ini.
Rupiah sendiri, entah kebetulan atau tidak, justru membuka sesi Rabu pagi di posisi melemah. Kurs spot tercatat Rp17.930 per dolar AS, turun 42 poin atau 0,13% dari penutupan Selasa sore di Rp17.888 per dolar AS. Angka Rp17.888 itu sebetulnya sudah pemulihan dari level Rp17.948 sehari sebelumnya, jadi pasar valuta asing bergerak cukup dinamis jelang pengumuman ini.
Yield Surat Utang Negara tenor 10 tahun bertahan di kisaran 7,29%. Angka yang tidak main-main. Ditambah defisit APBN Semester I 2026 yang menyempit ke 0,76% terhadap PDB, daya tarik instrumen pendapatan tetap tetap terjaga meski segala jenis ketidakpastian masih berkeliaran.
Yang paling seru justru terjadi di pasar obligasi ritel. ORI030-T3 dengan kupon tetap 6,9% per tahun hampir tandas, menyisakan sekitar Rp367 miliar dari target Rp28 triliun, alias tinggal 1,3% kuota. Tenor enam tahun, ORI030-T6 berbunga 7% per tahun, masih lebih longgar dengan sisa sekitar Rp2,3 triliun dari target Rp7 triliun. Masa penawaran masih berlanjut hingga 30 Juli 2026, tapi bagi yang mengincar T3, waktu agaknya tidak berpihak.
Keunggulan ORI030 dibanding deposito memang sudah lama jadi daya tarik tersendiri: pajak final hanya 10%, separuh dari pajak bunga deposito yang mencapai 20%. Yield tinggi, pajak lebih rendah. Bak gayung bersambut dengan kondisi pasar sekarang, wajar kalau T3 nyaris sold out jauh sebelum periode penawaran tutup.
Harga emas turut menguat. Spot emas naik 1,83% ke US$4.080,2 per troy ounce pada Selasa dan berlanjut ke sekitar US$4.132 pada Rabu pagi, didorong permintaan safe haven seiring ketegangan AS-Iran. Harga beli emas digital per gram di platform lokal bervariasi: Treasury di Rp2.428.245, Pegadaian di Rp2.497.740, dan Indogold di Rp2.381.856.
Bagi investor yang sudah berancang-ancang sejak pagi menunggu keputusan BI, hasilnya kini sudah jelas. Rate ditahan, tekanan terhadap harga obligasi dari sisi kenaikan bunga mereda, yang secara teknikal positif bagi reksadana pendapatan tetap. Pertanyaannya sekarang: apakah rupiah bisa kembali menguat, atau justru penahanan rate ini yang akan membebani nilai tukar dalam beberapa pekan mendatang?