Dua kali kenaikan dalam waktu kurang dari sebulan, total 75 basis poin, dan cadangan devisa yang terkuras 11,6 miliar dolar AS sepanjang tahun ini. Bank Indonesia sudah merogoh cukup dalam demi menjaga rupiah, dan kini kalangan ekonom sepakat: saatnya berhenti sejenak.
Dalam Rapat Dewan Gubernur yang digelar 17-18 Juni 2026, BI diperkirakan kuat akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,50 persen. Bukan tanpa dasar. Rupiah yang sempat menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di atas Rp 18.000 per dolar AS pada awal Juni kini mulai terkonsolidasi di kisaran Rp 17.762 per dolar AS. Penguatan ini, bagi banyak analis, jadi bukti bahwa kebijakan yang sudah ditempuh mulai bekerja.
Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menyebut momentum tersebut sebagai argumen terkuat untuk menahan laju kenaikan suku bunga. Dua kali kenaikan berturut-turut sudah cukup memberi sinyal ke pasar, dan tekanan nilai tukar yang sebelumnya tak kunjung reda kini mulai mereda. "Kalau dinaikkan lagi, pertimbangannya akan ada dampaknya terhadap pertumbuhan atau transmisi ke dalam bentuk penyaluran kredit ke sektor riil yang akan tertahan," ungkap Faisal.
Khawatir itu masuk akal. Kredit yang mahal berarti investasi yang tertahan. Bukan opsi yang mewah di saat pertumbuhan ekonomi butuh dukungan.
Suara serupa datang dari LPEM FEB UI. Ekonom Teuku Riefky menilai paket kebijakan yang sudah dijalankan BI, mulai dari kenaikan BI Rate 75 bps secara kumulatif, intervensi valas, hingga penaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sudah membentuk respons yang memadai. Sebelum menarik pelatuk berikutnya, BI perlu memberi waktu bagi kebijakan-kebijakan itu untuk bekerja. "Kami berpandangan bahwa Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya pada level 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang akan datang," kata Riefky dalam hasil risetnya.
YB Suhartoko, dosen ekonomi terapan Unika Atma Jaya, menambahkan satu faktor yang kerap luput dari kalkulasi: turunnya eskalasi geopolitik. Terbukanya kembali Selat Hormuz dan meredanya ketegangan Iran-AS-Israel, menurut Suhartoko, turut mengikis tekanan eksternal terhadap rupiah. Bak gayung bersambut, kepercayaan investor yang mulai terbaca bahwa BI serius menjaga stabilitas nilai tukar berpotensi menahan capital outflow, bahkan mendorong inflow.
Satu variabel tetap patut dicermati: inflasi. Mei 2026 mencatat inflasi 3,08 persen secara tahunan, melonjak dari 2,42 persen di bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipicu faktor pasokan, harga pangan dan penyesuaian harga energi. Riefky menilai tekanan inflasi dari sisi penawaran ini membuat efektivitas pengetatan moneter tambahan justru terbatas. Menaikkan suku bunga tidak akan memperbaiki suplai bahan pangan yang terganggu. Logika yang, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, cukup untuk membuat argumen tahan suku bunga makin solid.
Ruang untuk memangkas suku bunga, sebaliknya, juga belum terbuka lebar. Selama tekanan terhadap rupiah belum benar-benar mereda dan cadangan devisa masih dalam proses pemulihan, BI agaknya akan bermain aman di level 5,50 persen untuk beberapa waktu. Pertanyaannya bukan lagi naik atau turun. Sampai kapan bertahan di titik ini?