Uji coba sudah dimulai, tapi kepastian implementasinya masih menggantung.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menjalankan mock trading penghapusan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 pada 22 dan 29 Agustus 2026 bersama anggota bursa. Hasilnya, menurut Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, "secara umum cukup berhasil." Ada catatan: delapan Anggota Bursa belum ikut serta, dan BEI belum berani mengunci tanggal pasti go-live.
"Kita akan sesuaikan dengan kesiapan dari seluruh Anggota Bursa, karena kita akan memastikan seluruh Anggota Bursa siap sebelum kita melakukan live," ujar Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Jumat (28/8). Target awal memang 7 September 2026. Tapi kalimat itu agaknya membuka ruang untuk mundur.
Alasan di balik kebijakan ini cukup gamblang. BEI ingin memberi ruang likuiditas dan price discovery yang lebih wajar bagi saham-saham yang selama ini tersandera di level gocap, harga terendah yang secara teknis masih bisa diperdagangkan. "Untuk memberikan akses likuiditas dan price discovery yang lebih baik, kami akan menghapus batasan harga minimum Rp 50," jelas Jeffrey.
Bersamaan dengan itu, BEI merevisi mekanisme auto rejection atas dan bawah (ARA/ARB). Untuk saham berharga Rp1 hingga Rp10, batas ARA maupun ARB tidak lagi berbasis persentase, melainkan nominal flat Rp1. Artinya, saham seharga Rp3 hanya bisa naik atau turun Rp1 dalam sehari. Bagi investor yang terbiasa bermain di saham murah, ini perubahan yang perlu dicermati betul sebelum memutuskan masuk.
Pertanyaan yang paling banyak beredar di kalangan investor ritel: apa yang terjadi dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)?
Saham teknologi ini menyentuh level Rp50 pada 5 Mei 2026 dan sejak itu mandek di sana. Lebih dari tiga bulan harga tak bergerak, bukan karena sepi, tapi karena lantai harganya memang sudah di titik itu. Kalau batas bawah digeser ke Rp1, GOTO secara teknis bisa amblas lebih dalam. Kabar yang tidak menyenangkan bagi yang masih nyangkut.
GOTO bukan satu-satunya. PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sudah terkunci di gocap sejak 2013, lebih dari satu dekade tanpa pergerakan berarti. PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO) sempat menyentuh Rp50 pada Februari 2026 sebelum kembali parkir di level yang sama. PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) masuk ke gocap pada 8 Juni 2026, sehari kemudian BEI menghentikan sementara perdagangan saham tersebut di seluruh pasar.
Satu dekade di gocap vs. tiga bulan di gocap: dua cerita yang berbeda, satu kebijakan yang memperlakukan keduanya sama. Ada emiten yang mandek di Rp50 karena fundamentalnya memang berat, ada yang tersandera mekanisme semata. Pasar yang akan menyortir, bukan aturan.
Bagi sebagian pelaku pasar, penghapusan floor price ini ibarat pedang bermata dua. Price discovery jadi lebih jujur, saham tidak lagi terkesan "beku" hanya karena ada tembok Rp50. Tapi saham yang selama ini terlindungi lantai tersebut bisa rontok lebih dalam kalau tekanan jual menguat. Risiko nyata, bukan sekadar skenario.
Proses FGD masih berjalan, laporan hasil uji coba dari anggota bursa masih dikumpulkan. Jeffrey memastikan tidak akan ada live sebelum seluruh sistem dan peserta siap. Entah itu berarti September, atau lebih lambat dari itu.