JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BBRI Terpeleset ke Posisi 3, DCII Makin Serius Anc...

Bisnis

BBRI Terpeleset ke Posisi 3, DCII Makin Serius Ancam Hegemoni Bank Besar

Saham BBCA masih nyaman di puncak, tapi di bawahnya DCII dan BBRI saling sikut ketat. Analis melihat BBRI sudah menyentuh dasar setahun, tapi risiko kualitas aset masih membayangi.

Balapan dengan Saham BBRI - Halaman all

Sepanjang tahun ini, persaingan di papan atas Bursa Efek Indonesia kian tidak membosankan. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali harus merelakan posisi kedua kepada PT DCI Indonesia Tbk (DCII), emiten data center yang belakangan melaju kencang menggeser nama-nama besar di jajaran elite bursa.

Per penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), market cap DCII tercatat Rp 465 triliun, mengungguli BBRI yang parkir di Rp 443 triliun. Selisihnya sekitar Rp 22 triliun. Bukan angka yang bisa dianggap enteng. Di bawah BBRI, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menguntit ketat dengan Rp 441 triliun, hanya terpaut dua triliun dari posisi ketiga. Agaknya BBRI sedang tidak nyaman.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih betah di puncak dengan market cap Rp 696 triliun, jauh meninggalkan persaingan di bawahnya. Justru di kisaran peringkat dua hingga empat inilah drama sesungguhnya terjadi. Dalam beberapa bulan terakhir urutan terus bergeser, kadang dalam hitungan hari.

Yang patut dicermati dari DCII bukan sekadar angkanya. Dalam skala historis, jarang sekali emiten non-keuangan bisa berdiri sejajar dengan bank BUMN sekaliber BBRI dalam hal kapitalisasi pasar, apalagi melampaui. Kejadian seperti ini tergolong langka dalam satu dekade terakhir, cermin retak dari dominasi lama sektor keuangan, sekaligus tanda bahwa appetite pasar terhadap infrastruktur digital sedang di titik tertinggi.

Nasib BBRI sendiri tengah dalam sorotan. Phintraco Sekuritas dalam riset terbarunya memandang saham ini sudah menyentuh titik dasar dalam setahun terakhir. Rentang pergerakan BBRI selama setahun ada di kisaran Rp 2.990 hingga Rp 3.970, dan posisi saat ini sudah di level bawah rentang tersebut. Price-to-book value BBRI tercatat 1,38 kali, sudah di bawah satu standar deviasi rata-rata lima tahun. Bagi yang percaya mean reversion, angka ini bisa jadi entry point yang menarik, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya.

Phintraco mempertahankan rekomendasi beli dengan harga wajar Rp 4.280, direvisi turun dari target sebelumnya Rp 4.710. Fundamental dinilai masih solid untuk mendongkrak harga kembali ke level tersebut. Perjalanannya tidak akan lurus.

Risikonya nyata. Tekanan kualitas aset di segmen mikro dan UMKM masih jadi pekerjaan rumah yang belum kelar. Biaya dana berpotensi merangkak naik seiring kondisi suku bunga yang belum sepenuhnya longgar. Kalau dua faktor ini memburuk bersamaan, pemulihan harga saham BBRI bisa jauh lebih alot dari yang diperkirakan analis mana pun.

Melengkapi sepuluh besar: PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 377 triliun, PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) Rp 330 triliun, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Rp 328 triliun, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 300 triliun, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 239 triliun, dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp 202 triliun.

Buat investor ritel yang sudah nyangkut di BBRI, kabar dari Phintraco mungkin sedikit melegakan. Tapi kalau BREN terus merangsek dan DCII tidak melambat, posisi ketiga pun tidak akan aman lama.