Sepanjang sesi perdagangan Senin (20/7/2026), saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tampil sebagai kontributor terbesar penguatan Indeks Harga Saham Gabungan, menyumbang 11,74 poin ke laju indeks setelah harganya naik 80 poin atau 2,69% ke level Rp3.050 di sesi siang.
Kenaikan ini bukan kejadian tunggal. BBRI sudah dalam tren pemulihan sejak awal Juni, ketika harganya sempat menyentuh titik nadir di Rp2.590. Dari sana, saham ini sudah rebound sekitar 17,8%, cukup untuk membuat para analis mulai ramai-ramai merevisi pandangan mereka.
Dua nama besar angkat suara hampir bersamaan. JPMorgan menaikkan rekomendasi BBRI menjadi overweight, sekaligus mendongkrak target harga 12 bulan dari Rp2.730 menjadi Rp3.400 dengan horison Juni 2027. Bila target itu tercapai, ada potensi kenaikan 12,58% dari harga penutupan Senin di Rp3.020. CLSA menyoroti bahwa saham kini diperdagangkan pada 1,4x price-to-book 2026, lebih rendah dari minus satu standar deviasi rata-rata historisnya di 1,78x, dan jauh di bawah rata-rata jangka panjang 2,12x. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.
Lantas, kenapa BBRI bisa tersungkur sampai sedalam itu? CLSA menjelaskan bahwa tekanan berasal dari kondisi likuiditas perbankan yang masih ketat. Dana pemerintah yang parkir di luar sistem perbankan membuat persaingan memperebutkan dana pihak ketiga meningkat tajam, biaya dana terkerek, dan margin bunga bersih tergerus. Di atas itu semua, portofolio kredit mikro BBRI masih dalam proses normalisasi, belum sepenuhnya pulih.
JPMorgan agaknya mulai melihat titik balik. Dalam risetnya, bank investasi asal AS itu menyebut risiko terkait kredit mikro sudah mulai mereda, termasuk eksposur ke Agrinas. JPMorgan juga menyinggung soal pinjaman PNM (Permodalan Nasional Madani), dengan catatan bahwa risikonya bisa diredam kalau BBRI mendapat suntikan subsidi bunga 10% dari pemerintah. Kerangka itu bukan sekadar asumsi di udara: bulan lalu, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan penurunan bunga pinjaman ultra mikro Mekaar PNM, di mana nasabah hanya membayar bunga 8% sementara 10% sisanya ditanggung negara.
BBRI sempat menyentuh puncaknya di Rp4.250 pada 18 September 2025 sebelum amblas ke titik terendah Juni lalu. Artinya, bahkan dengan pemulihan 17,8% sekalipun, saham ini masih sekitar 28% di bawah level tertingginya. Jarak antara posisi saat ini dan target JPMorgan terlihat masuk akal. Tapi ruang menuju level September 2025? Masih jauh.
Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan? Bagi investor ritel, jawabannya agaknya bergantung pada dua hal: seberapa cepat kredit mikro BBRI benar-benar bersih, dan seberapa serius pemerintah mengeksekusi skema subsidi bunga yang sudah diumumkan. Kalau data kredit kuartal depan masih suram, entah kebetulan atau tidak, momentum hari ini bisa jadi berhenti di situ saja.