Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ditutup di Rp 2.950 pada Jumat (29/5/2026), ambles 3,91% dalam sehari dan mencatat level terendah dalam lima tahun terakhir. Nilai transaksi meledak ke Rp 3,19 triliun dengan volume 1,07 miliar saham berpindah tangan, jauh di atas rata-rata harian normal, sebagian besar dipicu rebalancing indeks MSCI yang efektif berlaku pada penutupan hari itu.
Arus keluar asing pada sesi tersebut mencapai Rp 738,04 miliar. Bukan angka kecil untuk satu hari perdagangan. Tapi yang menarik, investor domestik justru menyerok dalam jumlah setara, membukukan net buy Rp 738 miliar. Ada yang kabur, ada yang masuk bak gayung bersambut.
Kalau ditarik lebih jauh, tekanan ini bukan fenomena satu hari. Sepanjang Mei 2026, asing mencetak net sell di BBRI sebesar Rp 1,14 triliun. Rangkaian aksi jual itu dimulai sejak pekan ketiga Mei, ketika dalam tiga hari berturut-turut (19-21 Mei) asing melepas BBRI total sekitar Rp 466 miliar. Angin segar sempat datang pada 22 Mei ketika BBRI rebound 0,99% ke Rp 3.050 disertai net foreign buy tipis Rp 6,87 miliar. Tidak bertahan lama.
Pada 26 Mei, saham ini kembali tergerus 3,15% ke Rp 3.070 dengan net sell asing Rp 264,43 miliar, berbalik dari hari sebelumnya yang sempat melompat hampir 4%. Volatilitas yang tidak nyaman bagi siapapun yang nyangkut di atas Rp 3.500.
Satu angka yang membuat analis berhenti sejenak: PBV BBRI kini di 1,32 kali, menyentuh level minus 2 standar deviasi dari rata-rata PBV sepuluh tahun terakhir. Kejadian langka dalam satu dekade. PER-nya pun 7,64 kali, di bawah minus 1 standar deviasi historis 10 tahun yang berada di 9,92 kali. Secara valuasi, ini agaknya level yang tidak banyak investor sempat lihat di saham bank pelat merah sebesar ini.
Phintraco Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan harga wajar Rp 4.280, turun revisi dari sebelumnya Rp 4.710. Mandiri Sekuritas senada, mematok target harga Rp 4.100 dengan rekomendasi buy. Kedua broker mencatat rentang harga setahun BBRI berada di Rp 2.990-3.970, artinya posisi saat ini sudah di dasar kisaran historis. Angka yang, kalau data ini bisa dipercaya, cukup untuk bikin investor jangka panjang melirik dua kali.
Fundamental operasional memang masih solid, meski pasar memilih mengabaikannya sementara. Laba bersih kuartal I 2026 tercatat Rp 15,63 triliun, tumbuh 13,8% secara tahunan. Total kredit yang disalurkan mencapai Rp 1.562 triliun, naik 13,7% YoY, melampaui guidance manajemen di kisaran 7-9%. Net interest income tumbuh 11,9% menjadi Rp 40,15 triliun. ROE naik ke 18,4% dari 17,1% di kuartal yang sama tahun lalu.
Data bulanan April 2026 pun konsisten: laba bersih bank only Rp 4 triliun, membawa akumulasi empat bulan pertama ke Rp 15,9 triliun atau tumbuh 6% YoY. Realisasi ini setara 27% dari estimasi konsolidasi konsensus untuk full year 2026, sedikit lebih baik dibanding pace yang sama tahun lalu. Beban provisi naik hanya 2% YoY di tengah pertumbuhan kredit 11%, sehingga cost of credit turun ke 3,2% dari 3,5% di periode yang sama tahun lalu.
Ada drama lain yang luput dari perhatian. Di papan kapitalisasi pasar BEI, BBRI dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) saling salip di peringkat dua dan tiga sepanjang sepekan terakhir. Pada 20 Mei, BBRI sempat menggeser DCII ke posisi ketiga. Per penutupan 22 Mei, posisi berbalik: DCII kembali di urutan dua dengan market cap Rp 460 triliun, BBRI tergeser ke posisi tiga dengan Rp 458 triliun. Posisi puncak tetap kokoh di tangan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan Rp 720 triliun. Melihat tekanan harga BBRI yang berlanjut setelahnya, jarak antara keduanya kemungkinan sudah melebar.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah fundamental BBRI bagus. Itu sudah tidak diperdebatkan. Berapa lama tekanan rebalancing global dan kekhawatiran suku bunga AS masih akan membebani saham perbankan besar Indonesia, sementara investor domestik diam-diam justru terus menambah posisi?