Dari puncak Maret 2024, BBCA sudah kehilangan hampir separuh nilainya. Tepatnya 47,8%. Angka yang berat dicerna, apalagi bicara soal emiten yang selama bertahun-tahun dianggap "saham tidur" paling aman di bursa Indonesia.
Pada penutupan Kamis (4/6/2026), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup di Rp 5.425 per saham, melemah 1,81% dalam sehari. Sepanjang 2026, koreksinya sudah mencapai 32,82%. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tak lebih baik: anjlok 3,1% ke Rp 2.810, dengan penurunan year to date 23,22%. Keduanya kini resmi menyentuh level terendah dalam lima tahun, lebih rendah dari posisi masing-masing pada 4 Juni 2021. BBCA sudah merosot 17,8% dari titik itu, BBRI bahkan terjun 33,94%.
Pelakunya cukup terbaca dari data. Investor asing membukukan net sell BBCA sebesar Rp 31,34 triliun sepanjang 2026, sementara net sell di BBRI menyentuh Rp 9,57 triliun. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat kepemilikan asing di BBCA pada akhir Mei 2026 sudah turun 10,07% dibanding posisi akhir Desember 2025, menjadi sekitar 36,91 miliar lembar. Di BBRI, susutnya 6% di periode yang sama.
Rabu (3/6/2026), saham BBCA ditutup minus 5,15% ke Rp 5.525. Net sell asing di saham ini sempat menyentuh Rp 531,8 miliar, tertinggi di seluruh bursa. Nilai transaksi harian tembus Rp 1,99 triliun dengan 87.295 kali frekuensi. Ramai, tapi bukan dalam artian yang bagus buat pemegang saham.
Apa yang sebetulnya terjadi? Senior Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menunjuk dua tersangka utama: kenaikan BI Rate ke 5,25% pada Mei 2026 dan pelemahan rupiah yang kian mengganas. "Sektor perbankan punya korelasi erat dengan makro ekonomi domestik. Pelemahan kurs rupiah akan memicu offload investor asing," ujar Nafan. Pada Rabu pagi itu, rupiah sempat tertekan ke Rp 17.900 per dolar AS, yang menurut BRI Danareksa Sekuritas sudah menjadi rekor terlemah sepanjang masa, kian dekat ke level psikologis Rp 18.000.
Dampak kenaikan BI Rate, kata Nafan, sejatinya bersifat jangka pendek. "Kinerja empat bank besar sejauh ini masih solid pada empat bulan pertama 2026. BBCA dan BBRI juga masih mencatatkan pertumbuhan laba bersih," ujarnya. Tekanan yang lebih abadi justru datang dari kurs. Selama rupiah belum stabil, arus keluar dana asing agaknya belum akan berhenti.
Apakah ini waktu yang tepat untuk masuk? Secara valuasi, argumennya cukup kuat. PBV BBCA kini di angka 2,63 kali, sudah di bawah minus dua standar deviasi PBV tiga tahun terakhir yang berada di 2,95 kali. PER-nya 11,73 kali, juga di bawah ambang batas serupa. Murah, setidaknya secara historis.
Nafan memasang target harga BBCA di Rp 8.375 dan BBRI di Rp 3.670. MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli BBCA meski memangkas target dari Rp 10.500 ke Rp 8.700, dengan proyeksi pertumbuhan PPOP dan permodalan yang kuat bakal menopang ketahanan laba, kendati NIM tertekan jangka pendek.
Dari sisi teknikal, Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz Setiyo Wibowo melihat BBCA tengah membentuk pola candle doji, sinyal konsolidasi di mana tekanan jual dan beli nyaris seimbang. Kalau rebound terkonfirmasi, target jangka pendeknya di kisaran Rp 5.875-5.900 dengan support di Rp 5.300. Untuk BBRI, support dicermati di Rp 2.780 dengan target jangka pendek Rp 3.070.
Satu konteks yang perlu diingat: pasar saham Indonesia secara keseluruhan memang sedang tidak baik-baik saja. IHSG ditutup di 5.839,78 pada Kamis (4/6/2026), melemah 1,70%. Sejak Januari hingga Mei, indeks tergerus tiap bulan, bahkan diklaim lebih buruk dari periode awal pandemi Covid-19 pada 2020. Dari 814 saham yang aktif diperdagangkan hari itu, 623 ditutup merah. Bukan main.
Valuasi murah bisa jadi peluang. Bisa jadi juga pisau yang terus jatuh. Pertanyaannya, berapa lama investor sanggup menunggu? Semuanya bergantung pada satu variabel yang paling susah diprediksi saat ini: ke mana rupiah akan bergerak.