Harga emas sudah tergerus hampir 30% dari puncaknya di akhir Januari 2026. Juni lalu bahkan mencatatkan penurunan bulanan terdalam sejak Krisis Keuangan Global 2008. Bagi investor ritel, sinyal semacam itu biasanya cukup untuk minggir. Bagi bank-bank sentral, ini bak diskon besar-besaran.
Bank Nasional Polandia (NBP) termasuk yang paling agresif. Sepanjang 2026, NBP sudah mengantongi 82 ton emas, dengan sekitar 19 ton di antaranya diserbu hanya dalam bulan Juni. Gubernur NBP Adam Glapiński berterus terang soal strateginya: "Kami secara konsisten membeli emas, memanfaatkan penurunan harga baru-baru ini." Bukan sembarangan borong.
Glapiński juga menepis anggapan bahwa akuisisi ini sekadar euforia pasar. "Ini bukan perlombaan atau pembelian yang dilakukan hanya untuk sekadar membeli. Ada kesadaran mendalam akan peran negara dalam memastikan keamanan Polandia dan rakyat Polandia dalam segala keadaan, termasuk masa perang, yang tentu saja tidak kita harapkan," katanya. Target NBP sudah ditetapkan: 700 ton. Cadangan saat ini berdiri di 632,4 ton, dengan sekitar 100 ton disimpan di dalam negeri, sisanya terparkir di London dan New York.
Polandia bukan pendatang baru di arena ini. Pada 2025, negeri itu menjadi pembeli emas terbesar di antara seluruh bank sentral global setelah menambah lebih dari 100 ton. Tahun ini, agaknya pola serupa sedang terulang.
Cina bergerak lebih senyap, tapi tak kalah masif. People's Bank of China (PBOC) mencatat pembelian emas selama 20 bulan berturut-turut, periode akumulasi bulanan terpanjang sejak 2015 menurut Reuters. Pada Juni 2026, PBOC menambah sekitar 14,93 ton, sekaligus pembelian bulanan terbesar sepanjang tahun ini. Total kepemilikan emas Beijing kini mencapai 2.346 ton atau sekitar 75,44 juta troi ons.
Strategi Beijing gamblang: pangkas eksposur terhadap aset berdenominasi dolar AS. Meski begitu, emas masih menyumbang kurang dari 10% dari total cadangan devisa China yang per akhir Juni 2026 mencapai US$ 3,4163 triliun, turun sekitar US$ 26 miliar dari bulan sebelumnya. Ruang akumulasi masih lebar, kalau data ini bisa dipercaya.
Gambaran yang lebih besar terbaca dari survei gabungan World Gold Council (WGC) dan Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF). Sebanyak 45% bank sentral global menyatakan berencana menambah kepemilikan emas dalam 12 bulan mendatang, sementara hampir 90% memperkirakan cadangan emas resmi dunia bakal terus membesar. Lebih dari 60% manajer cadangan yang disurvei OMFIF bahkan mematok ekspektasi harga emas di kisaran US$ 5.000 hingga US$ 6.000 per troi ons dalam setahun ke depan.
Goldman Sachs mempertahankan proyeksi US$ 4.900 per troi ons untuk akhir 2026. Argumennya: permintaan bank sentral yang konsisten akan terus menjadi penyangga harga, koreksi atau tidak.
Nawojka Wachowiak, Manajer Portofolio Senior di Ninepoint Partners, melihat fenomena ini sebagai pergeseran struktural. Ketika pembeli skala besar secara disiplin masuk setiap kali harga tertekan, pasar punya fondasi yang jauh lebih kokoh dibanding yang terlihat di permukaan. Emas, kata Wachowiak, semakin mengukuhkan posisinya sebagai aset safe-haven inti dalam neraca cadangan nasional.
Pertanyaannya sederhana tapi menusuk: apakah investor ritel mau ikut antri di loket yang sama? Bank sentral tidak membeli emas karena mengejar data inflasi bulan depan atau menebak kapan Fed pivot. Mereka membangun neraca dengan visi puluhan tahun, bukan kuartalan. Koreksi 30% yang membuat sebagian trader panik justru menjadi konfirmasi bagi para pengelola cadangan bahwa harga sudah masuk zona menarik. Sebuah pola klasik yang familiar buat siapapun yang pernah melewati 2008.