Delapan konsorsium resmi mengantongi Conditional Letter of Award dari PT Danantara Investment Management (DIM) untuk proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik tahap kedua. Salah satunya nama yang sudah lama malang melintang di jagat energi Indonesia: Bakrie.
Konsorsium Mentari Citra Lestari, yang di dalamnya ada PT Bakrie Power, ditunjuk sebagai mitra terpilih untuk proyek PSEL di wilayah Surabaya Raya. Bagi PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) selaku induk usaha, ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Waste-to-Energy dilihat manajemen sebagai jalur diversifikasi bernilai jangka panjang, seiring pengalaman Bakrie Power membangun pembangkit listrik untuk PLN maupun segmen B2B.
"Bisnis PSEL ini juga sangat terkait dengan pengalaman dan kapabilitas Bakrie Power dalam membangun pembangkit listrik untuk PLN ataupun kepentingan B2B market," kata Corporate Secretary BNBR Christofer Alexander Uktolseja dalam keterangan resmi, Senin (20/7).
Dalam konsorsium, Bakrie Power tidak berjalan sendiri. Ada PT Acritas Karya Persada yang diklaim punya rekam jejak membangun proyek sejenis di Surabaya, dan SUS Indonesia Holding Limited yang bertindak sebagai penyedia teknologi dengan portofolio implementasi di China dan sejumlah negara lain. Bakrie Power sendiri akan memegang peran di sisi pemilihan kontraktor EPC, pemenuhan ketentuan komponen lokal, pemeliharaan fasilitas, pendanaan proyek, dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan.
Investor BNBR sebaiknya tidak terburu-buru menghitung kontribusi proyek ini ke laporan keuangan. Status mitra terpilih masih bersyarat, tergantung pemenuhan seluruh persyaratan dalam CLoA. Studi kelayakan yang mencakup aspek teknis, komersial, dan finansial baru akan dikerjakan, dengan target rampung pertengahan November 2026. Groundbreaking direncanakan Desember 2026 hingga Januari 2027, dan jadwal pastinya baru terkunci setelah Final Letter of Award diterima.
Skala proyeknya tidak main-main. Program PSEL tahap kedua Danantara mencakup delapan lokasi di 20 kabupaten/kota, dengan proses seleksi yang diselesaikan kurang dari tujuh pekan. Dari 85 peserta daftar panjang terverifikasi dari tujuh negara, 68 aplikasi masuk untuk delapan slot. Empat dari delapan mitra terpilih dipimpin perusahaan Indonesia, termasuk konsorsium Bakrie.
Nama-nama lain yang turut mengantongi CLoA cukup beragam: Veolia dari Prancis untuk Semarang Raya, konsorsium Everbright untuk Bekasi, MPM-CEVIA untuk Bogor Raya 2, hingga Cakra Energi Lestari yang menggandeng Pertamina NRE untuk Yogyakarta Raya. Di Serang Raya, ada Chandra Waste Energy milik Chandra Asri Group yang juga belum bisa memberikan estimasi kontribusi finansial ke induk usahanya, nasib yang persis sama dengan Bakrie.
CIO Danantara Pandu Sjahrir menegaskan evaluasi dilakukan secara objektif bersama penasihat independen, mencakup bidang teknis, hukum, dan komersial. Mekanisme mitra cadangan, kata Pandu, sudah dirancang sejak awal. Kalau satu konsorsium gagal memenuhi syarat, proyek tidak akan mangkrak, setidaknya begitu klaim manajemen. Untuk wilayah Medan Raya, mekanisme ini sudah terbukti dipakai.
Bagi pemegang saham BNBR, pertanyaannya bukan soal apakah tema ini menarik. Waste-to-Energy memang sedang naik daun. Pertanyaan sesungguhnya: berapa besar porsi saham Bakrie Power dalam JV yang nanti terbentuk bersama Danantara? Proses pembentukan JV itulah, kata Christofer, yang pada akhirnya menentukan porsi saham perusahaan. Jawabannya masih jauh. Dan itu yang akan menentukan apakah ini diversifikasi yang mengubah wajah BNBR, atau sekadar partisipasi dalam proyek besar milik negara.