MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Bahlil Akui Tak Bisa Tidur Nyenyak Saat Selat Horm...

Bisnis

Bahlil Akui Tak Bisa Tidur Nyenyak Saat Selat Hormuz Ditutup, BBM Subsidi Tetap Aman

Di tengah gejolak geopolitik yang memukul jalur impor minyak Indonesia, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berhasil mengamankan pasokan lewat diversifikasi ke Afrika dan Amerika Latin, sekaligus memastikan harga BBM subsidi tidak bergerak naik.

Bahlil: Jadi Menteri ESDM pada Era Geopolitik Bukan Sesuatu yang Gampang

Kapal tanker PT Pertamina International Shipping sempat tertahan di Teluk Arab. Selat Hormuz, jalur vital yang menanggung hampir sepertiga perdagangan minyak dunia, menutup diri akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Bagi Bahlil Lahadalia, momen itu terasa lebih berat dari yang bisa dijelaskan di ruang rapat mana pun.

"Ilmu sekolah enggak cukup. Tidak ada itu mata kuliah di energi kalau Selat Hormuz ditutup ambil minyak dari mana?" kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu di hadapan kader Golkar dalam Mubeslub MKGR di Jakarta Pusat, Sabtu (11/7/2026). Bukan retorika kosong. Bahlil sedang menggambarkan betapa rapuhnya posisi energi Indonesia ketika geopolitik bergolak.

Angkanya memang tidak menenangkan. Konsumsi BBM nasional saat ini mencapai 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi domestik atau lifting minyak hanya menyentuh 600.000 hingga 610.000 barel per hari. Sekitar satu juta barel setiap hari harus datang dari impor, dan sebagian besar selama ini melewati Selat Hormuz. "Kita tahu semua bahwa pada saat awal bulan puasa, itu adalah detik-detik sebagai Menteri ESDM yang enggak bisa tidur nyenyak," ungkap Bahlil.

Ketika jalur itu terancam tutup, pemerintah bergerak memetakan ulang sumber pasokan. Bahlil menyebut pihaknya segera mengalihkan impor minyak mentah dari Timur Tengah ke sejumlah negara di Afrika dan Amerika Latin. Negosiasi digelar, termasuk lewat Zoom dengan pejabat Afrika, dan Bahlil menceritakannya dengan nada bercanda. "Untung aja yang di Afrika model pejabatnya seperti orang Papua, hitam seperti saya. Jadi pada saat saya Zoom sama mereka, mereka pikir kita ini mungkin satu keluarga, jadi kasih juga," selorohnya yang disambut tawa hadirin. Ia lanjut: "Bayangkan kalau saya putih tidak percaya mereka."

Di balik candaan itu ada fakta yang cukup serius. Indonesia berhasil mengantongi tambahan pasokan minyak dari Afrika dan Amerika Latin untuk menambal defisit yang ditinggalkan jalur Timur Tengah. Impor dari kawasan Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz sudah dihentikan, kebutuhan minyak mentah dipenuhi dari jalur alternatif, dan impor produk BBM jadi kini lebih banyak bersumber dari kawasan Asia Tenggara.

Selat Hormuz kini sudah dibuka kembali. Pemerintah Iran mengumumkan normalisasi lalu lintas komersial per 17 April 2026, bersamaan dengan momentum gencatan senjata di Lebanon. Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyambut langkah tersebut sebagai sinyal positif bagi stabilitas pasokan energi global. "Ini memberikan kepastian terhadap jalur distribusi energi yang sebelumnya sempat terganggu akibat dinamika geopolitik," ujar Anggia dalam keterangan resminya. Pemerintah kini tengah berkoordinasi membebaskan dua kapal Pertamina yang sebelumnya tertahan di kawasan itu.

Satu jaminan yang konsisten diulang Bahlil: harga BBM bersubsidi tidak akan naik. Bahkan seandainya harga Indonesian Crude Price menyentuh 100 dolar per barel sekalipun. Komitmen ini sudah dilaporkan dan mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. "Saya melaporkan kepada Bapak Presiden, menyarankan kepada Bapak Presiden dan sekaligus Bapak Presiden mengarahkan agar harga BBM subsidi tidak perlu kita naikkan. Alhamdulillah harga BBM subsidi tidak ada kita naikkan," tegasnya.

Stok nasional diklaim aman, pasokan terjaga, jalur impor sudah terdiversifikasi. Krisis yang sempat mengancam ini, kalau data Bahlil bisa dipercaya, berhasil dikelola sebelum antrean panjang di SPBU sempat terbentuk. Pertanyaannya tinggal satu: seberapa lama gencatan senjata di Lebanon bisa bertahan?