SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Asing Serbu BMRI, TPIA, dan ANTM: Big Cap Murah ya...

Bisnis

Asing Serbu BMRI, TPIA, dan ANTM: Big Cap Murah yang Kembali Dilirik

Tiga saham berkapitalisasi besar yakni Bank Mandiri, Chandra Asri Pacific, dan Antam menjadi incaran investor asing pekan ini, dengan net buy gabungan melampaui Rp 1 triliun di tengah valuasi yang dinilai masih atraktif.

The latest comparison of the largest companies in Indonesia and Malaysia, based on market capitalization as of April 2026, highlights the strong dominance of Indonesia's corporate giants. Leading th

Pekan lalu, investor asing seperti menemukan sesuatu yang sudah lama mereka cari. Tiga nama besar di Bursa Efek Indonesia, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), kompak diserbu pembelian asing dalam volume yang tidak kecil, justru di saat valuasinya sedang tertekan ke level yang, jujur saja, jarang terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

Selama periode 13-17 Juli 2026, asing mencatat net buy di ketiga saham ini dengan total melampaui Rp 1 triliun di pasar reguler. BMRI memimpin jauh: net buy Rp 557,1 miliar, menjadikannya saham paling banyak diborong asing di seluruh BEI sepanjang pekan tersebut. TPIA menyusul dengan Rp 244 miliar, ANTM mengantongi Rp 237,4 miliar. Di level pasar keseluruhan, asing membukukan net buy Rp 442 miliar, berbalik tajam dari pekan sebelumnya yang mencatat net sell hingga Rp 1,7 triliun.

Semua tentang valuasi. PE ratio TTM BMRI saat ini hanya 7,1 kali, TPIA 8 kali, ANTM 8,7 kali, angka yang tergolong murah untuk emiten dengan fundamental sekuat ini. ROE ketiga emiten masih terjaga di level kompetitif, artinya asing dapat harga diskon untuk bisnis yang tetap menghasilkan. Bak gayung bersambut: valuasi murah bertemu selera risiko yang tampaknya mulai pulih.

BMRI jadi bintang utama pekan ini, dan angka-angkanya memang sulit diabaikan. Sepanjang Januari-Mei 2026, laba bersih setelah pajak bank only mencapai Rp 23,3 triliun, tumbuh 19% secara tahunan. Angka itu setara 40% dari target laba penuh tahun 2026 versi MNC Sekuritas, yang mengonfirmasi manajemen masih on track.

Mei 2026 saja sudah mencetak laba bersih Rp 5,3 triliun, naik 18% month on month sekaligus 18% year on year. Laba operasional sebelum pencadangan tumbuh 14% yoy menjadi Rp 31,9 triliun, ditopang kenaikan net interest income 10% yoy ke Rp 34,9 triliun dan pendapatan non-bunga yang melonjak 12% yoy menjadi Rp 14,8 triliun. Kredit yang disalurkan tembus Rp 1.580 triliun, tumbuh 21% yoy, akselerasi dari 16% di kuartal I. NIM stabil di 4,2%. Tidak mudah, di lingkungan suku bunga seperti sekarang.

Analis MNC Sekuritas Victoria Venny mempertahankan rekomendasi buy untuk BMRI dengan target harga Rp 6.050, mencerminkan estimasi PBV 2026 sebesar 1,8 kali dan PBV 2027 sebesar 1,7 kali. Dari harga penutupan Jumat Rp 4.480 yang sudah naik 3,9% dalam sehari, potensi upside ke target tersebut masih sekitar 35%. Lebar, kalau data ini bisa dipercaya.

Pada perdagangan Jumat 17 Juli 2026, saham-saham perbankan besar kompak menguat, terseret sentimen positif dari aksi borong asing. TPIA turut menguat 0,7% ke Rp 1.945. ANTM sedikit berbeda nasib, melemah tipis 0,3% ke Rp 3.070 meski tetap masuk daftar net buy asing terbesar pekan itu.

Pertanyaannya: apakah pembalikan ini bertahan? Dari net sell Rp 1,7 triliun langsung berbalik net buy Rp 442 miliar hanya dalam seminggu. Cukup untuk bikin pasar penasaran. Entah ini murni oportunistik karena valuasi, atau ada katalis lain yang sedang mereka antisipasi, agaknya baru akan terjawab dari data aliran dana beberapa pekan mendatang.